Liputan6.com, Jakarta Harga minyak turun tipis dipicu investor yang mengambil keuntungan setelah dua hari terjadi kenaikan, di tengah kekhawatiran meningkatnya suku bunga AS yang agresif.
Meski demikian kerugian harga minyak mentah ini masih dibatasi ekspektasi bahwa pemulihan ekonomi yang kuat akan meningkatkan permintaan.
Advertisement
Melansir laman financialpost.com, Jumat (14/1/2022), harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 29 sen, atau 0,4 persen menjadi USD 82,35 per barel, setelah naik 5,6 persen selama 2 hari terakhir.
Adapun harga minyak mentah berjangka Brent turun 2 sen, atau 0,5 persen menjadi USD 84,65 per barel. Harga minyak ini telah naik 4,7 persen dalam 2 hari sebelumnya.
"Data inflasi harga produsen AS, seperti bulan lalu dapat memberi tekanan pada The Fed untuk mengendalikan ekonomi, berpotensi menjadi hambatan pada harga minyak mentah dan mendukung dolar," kata John Kilduff, Mitra di Again Capital Management di New York.
Bahkan dia menyebut ini sebagai "faktor yang cukup mengkhawatirkan". Harga minyak biasanya bergerak terbalik terhadap dolar AS, dengan greenback yang lebih kuat membuat komoditas lebih mahal bagi mereka yang memegang mata uang lainnya.
Kilduff mengatakan kenaikan klaim pengangguran awal lebih lanjut dapat melemahkan permintaan bensin.
Beberapa investor melihat lebih dalam pada data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) pada hari sebelumnya.
Sementara persediaan minyak mentah turun lebih dari yang diharapkan, laporan itu juga menunjukkan permintaan bahan bakar telah terpukul dari Omicron.
Stok bensin meningkat 8 juta barel dalam seminggu hingga 7 Januari, dibandingkan dengan ekspektasi analis untuk kenaikan 2,4 juta barel.
“Pada kenyataannya, laporan EIA mingguan kurang bullish dari angka utama, karena total persediaan minyak mentah turun 4,8 juta barel tetapi lebih dari diimbangi oleh peningkatan stok di seluruh produk olahan,” kata Citi dalam sebuah catatan.
Penurunan persediaan minyak mentah "mungkin terkait dengan masalah pajak akhir tahun pada stok minyak di Texas dan Louisiana," tambah bank tersebut.
Diprediksi Bisa Capai USD 125 per Barel
Namun, kerugian dibatasi oleh spekulasi bahwa Omicron tidak cukup parah untuk menggagalkan pemulihan permintaan global dan cuaca dingin di Amerika Utara.
Harga minyak melonjak lebih dari 50 persen pada 2021 dan beberapa analis memperkirakan reli akan berlanjut.
Diprediksi jika kapasitas produksi yang sedikit dan investasi yang terbatas dapat mengangkat harga minyak mentah ke level USD 90 atau bahkan di atas USD 100 per barel. JP Morgan memperkirakan harga minyak akan naik setinggi USD125 per barel tahun ini.
"Akan menarik untuk melihat apakah optimisme dipertahankan ketika suhu mulai meningkat pada musim semi," kata analis PVM Oil Tamas Varga.
Minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Februari 2023 diperdagangkan dengan diskon lebih dari USD 9 untuk minyak mentah berjangka untuk pengiriman Februari, bergerak ke wilayah overbought untuk pertama kalinya sejak November.