Liputan6.com, Jakarta - Majelis Profesor Riset baru saja mengukuhkan empat profesor riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dengan bertamahnya keempat profesor riset tersebut, kini jumlah jumlah profesor di tingkat nasional telah menjadi 7833.
Adapun keempat profesor riset baru tersebut, yaitu Prof. Irtanto dari Balitbangda Provinsi Jawa TImur dan Prof. Agus Haryono dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik.
Advertisement
Lainnya adalah Prof. Siswanto dari Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Humaniora, dan Prof. Muhammad Rokhis Khomaruddin dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa.
Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko mengakui, untuk menjadi seorang profesor tidaklah mudah, ketekunan dan semangat yang tinggi dalam melakukan riset menjadi kunci keberhasilan.
“Semangat dan selalu fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang periset menjadi modal utama untuk dapat meraih prestasi hingga menjadi profesor,” kata Handoko.
Handoko berpesan, agar mereka mampu membina para periset di bawahnya untuk dapat bekerja lebih baik sehingga penelitian yang dilakukan dapat memberikan hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian di masa mendatang, kualitas SDM iptek BRIN terus meningkat dan mampu bersaing dengan para periset di tingkat global.
* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Orasi Keempat Profesor Riset
Dalam orasinya, Profesor ke-626, Irtanto dari bidang Politik menjelaskan perubahan sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi telah melahirkan otonomi daerah.
Otonomi daerah diharapkan dapat memelihara hubungan yang serasi, baik antara pusat dan daerah maupun antardaerah sehingga dapat meningkatkan pembangunan daerah dan kinerja birokrasi pelayanan publik.
“Namun, dalam pelaksanaannya, otonomi daerah justru menimbulkan berbagai konflik antar daerah otonom kabupaten/kota dan konflik internal daerah otonom,” kata Irtanto.
Permasalahan Sampah Plastik
Profesor ke-627, Agus Haryono Bidang Kimia Makromolekul, dalam orasinya menjelaskan, isu permasalahan sampah yang timbul akibat dari pemakaian plastik yang tidak ramah lingkungan.
Fenomena mikroplastik yang mencemari lautan Indonesia mengakibatkan juga cemaran terhadap biota laut yang bersifat karsinogen menjadikan bukti pentingnya pengembangan kemasan ramah lingkungan.
“Minyak kelapa sawit dan biomassa sawit dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku biopolimer, biokomposit, dan bioaditif. Melalui proses modifikasi struktur makromolekul yang tepat, aplikasi menjadi optimal pada kemasan, dan pelapis yang ramah lingkungan,” kata Agus.
Masalah Perubahan Kebijakan Luar Negeri AS
Sedangkan Profesor ke-628, Siswanto pakar bidang Ilmu Politik menyampaikan orasi masalah perubahan kebijakan luar negeri AS dalam sengketa Irian Barat.
Dia menyoroti, sengketa tersebut berubah dari pasif netral menjadi aktif mediasi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
“Faktor internal adalah rekomendasi para elite dan pergantian pejabat di era Presiden Kennedy. Faktor eksternal adalah meningkatnya eskalasi konflik Irian Barat pada awal tahun 1962 sehingga berpotensi menjadi perang terbuka dan masuknya pengaruh Uni Soviet ke Indonesia,” kata Siswanto.
Solusi Mitigasi Bencana
Profesor ke-628, Muhammad Rokhis Khomaruddin pakar Bidang Teknologi Penginderaan Jauh Dan Geomatika, menyampaikan orasi tentang deteksi permasalahan lingkungan difokuskan pada pemanfaatan data penginderaan jauh yang selanjutnya dapat digunakan untuk mitigasi bencana.
Dengan dukungan teknologi, riset model simulasi perubahan lingkungan juga dapat memecahkan masalah akurasi dan uncertainty dapat diselesaikan.
“Hasil model simulasi berbasis penginderaan jauh tidak hanya dapat memperkirakan potensi bencana di masa mendatang, tetapi dapat juga memperkirakan penyebab terjadi bencana dan memperkirakan potensi jumlah korban jiwa terhadap suatu bencana,” jelas Rokhis.
(Ysl/Isk)