Kita Jaga Mangrove, Mangrove Jaga Kita

Yayasan KEHATI menggelar program penanaman bibit mangrove di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten

oleh Muhamad Husni Tamami diperbarui 22 Des 2021, 14:51 WIB
Program penanaman mangrove oleh Kehati, Asahimas, dan warga di Pandeglang, Banten, Rabu 22 Desember 2021 (Foto: Liputan6.com/MHT)

Liputan6.com, Pandeglang - Banten merupakan salah satu daerah yang rawan bencana tsunami. Sayangnya, sepanjang pantai di wilayah Banten mengalami kerusakan ekosistem mangrove. Padahal mangrove merupakan salah satu tanaman yang dapat meminimalisir terjadinya tsunami.

Yayasan KEHATI melanjutkan kembali ikhtiar mencegah terjadinya dampak yang berakibat bencana di pesisir pantai dengan menanam bibit mangrove di Desa Panimbangjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (22/12/2021). Kali ini bekerja sama dengan PT Asahimas Chemical dan melibatkan masyarakat setempat.

"Belajar dari program rehabilitasi yang sudah dilakukan oleh KEHATI, keterlibatan dan peran aktif masyarakat yang tinggal di lokasi rehabilitasi sangat penting. Ekosistem mangrove yang ada harus dipahami sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang harus dijaga kelestariannya. Kita jaga mangrove, mangrove jaga kita,” kata Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos.

Pada 2019 lalu Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) melakukan studi pendahuluan bersama Yayasan Konservasi Laut (YKL) terkait mangrove di Teluk Palu. Hasilnya mangrove terbukti mampu meredam terjangan tsunami di Kelurahan Kabonga Besar, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala.

Mangrove memberikan dampak besar bagi keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut, melindungi pesisir dari bencana, membantu penyerapan karbon untuk memitigasi pemanasan global, dan menumbuhkan sosial ekonomi masyarakat dari jasa ekosistem mangrove.

Rehabilitasi mangrove di pesisir pantai tersebut dilakukan dalam kurun lima tahun ke depan. Tujuannya untuk mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca (carbon pollution) dan mitigasi bencana di Provinsi Banten, serta ikut berkontribusi dalam target nasional penambahan hutan mangrove sebagai langkah mitigasi perubahan iklim.

Selain rehabilitasi, dilakukan juga penguatan kelembagaan, pelatihan produk olahan mangrove, pelatihan perikanan berkelanjutan, pelatihan manajemen pemasaran produk, pembuatan toko, dan e-commerce.

 

Program penanaman mangrove oleh Kehati, Asahimas, dan warga di Pandeglang, Banten, Rabu 22 Desember 2021 (Foto: Liputan6.com/MHT)

Vice President Director PT ASC Eddy Sutanto menegaskan, penanaman bibit mangrove di Pantai Panimbang tidak sebatas seremoni. Menurutnya, program mangrove bukan hanya menanam, tapi berjangka panjang.

"Kami memberdayakan masyarakat sekitar. Harapannya bisa menumbuhkan roda perekonomian masyarakat, " ujarnya.

"Kita kerja sama dengan Yayasan KEHATI dan masyarakat setempat. Kita pastikan tanaman (mangrove) ini tumbuh. Kita monitor, kalau tanamannya mati, kita tanam lagi," sambungnya.

Dia mengatakan, kegiatan penanaman bibit mangrove merupakan bentuk sosialisasi program rehabilitasi yang dilakukan di Banten, khususnya di Desa Panimbangjaya.

"Kami juga berharap program rehabilitasi ini dapat menjadi model dalam mendukung pembangunan rendah karbon di Provinsi Banten,” harapnya.

 

Program penanaman mangrove oleh Kehati, Asahimas, dan warga di Pandeglang, Banten, Rabu 22 Desember 2021 (Foto: Liputan6.com/MHT)

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, Eli Susiyanti mengapresiasi langkah yang dilakukan Yayasan KEHATI bersama PT Asahimas Chemical terkait penanaman mangrove.

Menurutnya, penanaman tersebut untuk mewujudkan pelestarian lingkungan di daerah pesisir. Ia berharap bisa berkelanjutan, berkesinambungan, dan bermanfaat untuk masyarakat.

"Salah satu program dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten sebetulnya adalah mitigasi bencana. Kita tahu bahwa Banten salah satu daerah yang tergolong rawan bencana dengan pergeseran tanah dan juga gelombang yang tinggi. Salah satu buktinya adalah tsunami tahun 2018," tutur Eli.

Eli menerangkan, setelah tsunami tahun 2018, Pemprov Banten bergerak cepat untuk membangun tanggul di pesisir pantai. Kemudian menanam mangrove, namun saat itu belum berhasil.

"Nah, penanaman yang dilakukan saat ini salah satu upaya untuk mencoba meminimalisir bencana yang kita gak tau kapan datang," katanya.

Menurut dia, mangrove merupakan salah satu wahana yang dapat memecah gelombang, di samping tanggul yang sudah dibangun.

"Jadi kemarin kita koordinasi dengan PT Asahimas Chemical dan Yayasan KEHATI. Silakan gunakan lahan milik pemrov. Dengan catatan melibatkan masyarakat sekitar, karena merekalah yang kemudian akan menjaga dan merawat pertumbuhan selanjutnya," kata Eli.

Saksikan Video Pilihan Ini

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya