Tangkal Hoaks soal Vaksin Sama Pentingnya dengan Vaksin Covid-19 untuk Akhiri Pandemi

Calon vaksin covid-19 sudah memasuki tahap terakhir penelitian. Namun diperlukan juga 'vaksin' untuk mencegah hoaks terkait vaksin itu sendiri untuk bisa mengakhiri pandemi.

oleh Adyaksa VidiDiperbarui 12 November 2020, 12:15 WIB
Ilustrasi vaksin COVID-19 (AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Calon vaksin covid-19 sudah memasuki tahap terakhir penelitian. Namun diperlukan juga 'vaksin' untuk mencegah hoaks terkait vaksin itu sendiri untuk bisa mengakhiri pandemi.

Hal ini disampaikan oleh Profesor Melinda Mills, Direktur Leverhulme Center for Demographic Science, University of Oxford& Nuffield College, Inggris. Mills menyebut informasi yang benar soal vaksin akan membuat program mengakhiri pandemi bisa berjalan lancar.

Di Inggris sendiri dalam studi terakhir yang dirilis Agustus lalu menemukan bahwa 36 persen orang enggan divaksin covid-19. Hal ini tidak lepas dari banyaknya hoaks soal vaksin covid-19 itu sendiri.

Seperti penanaman chip dalam vaksin, efek samping vaksin yang berbahaya, hingga efektivitas vaksin sendiri pada suatu penyakit. Apalagi hoaks dikemas sedemikian rupa sehingga membuat orang mudah percaya dan menyebarkannya.

"Kontennya sering kali sangat menarik, dengan pesan sederhana yang memanfaatkan ketakutan dan keraguan terdalam kita. Contohnya, beberapa orang berpikir flu bisa dikurangi dengan diet sehat, lalu kenapa covid-19 harus divaksin? Informasi inilah yang harus direspons dengan baik," ujar Mills seperti dilansir Guardian.

 ** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Informasi Jelas

Vaksin COVID-19 yang dikembangkan laboratorium Institut Penelitian Ilmiah Epidemiologi dan Mikrobiologi Gamaleya, Moskow, Rusia, 6 Agustus 2020. Menurut Presiden Rusia Vladimir Putin pada 11 Agustus 2020, negaranya telah mendaftarkan vaksin COVID-19 pertama di dunia. (Xinhua/RDIF)

Mills berharap informasi soal vaksin tersebut disampaikan dengan jelas dan juga sederhana.

"Pesan harus sesuai dengan pengalaman sehari-hari, menarik dan juga adaptif. Informasi juga harus bisa mengakhiri kekhawatiran dan ketakutan soal vaksin covid-19 dengan materi yang sarat fakta," kata Mills.

"Kemajuan ilmiah untuk mendapatkan vaksin covid-19 dengan cepat tidak ada artinya jika tidak disertai komunikasi yang persuasif tentang vaksin itu sendiri. Pemerintah harus menggandeng komunitas lokal yang memahami masyarakat di sekitarnya, jadi bukan hanya pesan yang disampaikan secara online."

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya