Hingga Juli 2020, Penjualan BBM Subsidi Capai 8,07 Juta KL

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penjualan volume BBM bersubsidi sampai dengan bulan Juli 2020

oleh Pipit Ika RamadhaniDiperbarui 02 September 2020, 13:11 WIB
Pelanggang mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU, Jakarta, Rabu (19/8/2020). Pemerintah akan menggelontorkan belanja subsidi senilai Rp 54,4 triliun yang akan dialokasikan untuk BBM dan LPG 3 kilogram. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi penjualan volume BBM bersubsidi sampai dengan bulan Juli 2020 sebesar 8,07 juta KL (kiloliter). Terdiri dari minyak tanah sebesar 0,27 juta KL dan solar sebesar 7,8 juta KL.

Sementara untuk outlook volume BBM bersubsidi tahun 2020, yakni sebesar 15,06 juta KL. Terdiri dari minyak sebesar 0,48 juta KL dan minyak solar sebesar 14,58 juta KL.

“Berdasarkan Raker tanggal 29 Juni 2020, volume BBM bersubsidi tahun 2021 disepakati 15,79 sampai dengan 16,3 juta KL. Yang terdiri dari minyak tanah sebesar 0,48 sampai 0,5 juta KL, dan minyak solar sebesar 15,31 sampai 15,8 juta KL,” beber Menteri ESDM Arifin Tasrif dalam rapat kerja dengan komisi VII, Rabu (2/9/2020).

Dengan mempertimbangkan realisasi outlook tahun 2020 serta hasil Raker 29 Juni 2020, lanjut Arifin, maka volume BBM bersubsidi pada nota keuangan RAPBN 2021 ditetapkan sebesar 16,3 juta KL. Terdiri dari minyak tanah 0,5 juta KL dan solar sebesar 15,8 juta KL.

Kemudian, realisasi kuota volume LPG 3 kg tahun 2020, sampai bulan Juni 2020 sebesar 4,1 juta Metrik ton (MTon). Sedangkan outlook sampai dengan akhir tahun 2020 diperkirakan sebesar 7 juta MTon.

“Berdasarkan hasil Raker 29 Juni 2020, kuota volume LPG 3 kg tahun 2021 disepakati sebesar 7,5 sampai dengan 7,8 juta Metrik ton. Sedangkan volume LPG 3 kg dalam nota keuangan RAPBN tahun anggaran 2021 ditetapkan sebesar 7 juta MTon,” papar Arifin.

** Saksikan "Berani Berubah" di Liputan6 Pagi SCTV setiap Senin pukul 05.30 WIB, mulai 10 Agustus 2020

Pertamina Sediakan 6 Varian BBM, Paling Banyak di Antara Negara Lain

New Normal diterapkan, Pertamina bikin SOP baru untuk pelayanan di SPBU.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengungkapkan Pertamina memiliki enam produk BBM yang dijual ke masyarakat. Dengan begitu, Indonesia menjadi negara yang memiliki paling banyak varian BBM di antara sembilan negara lainnya. Dimana rata-rata hanya menjual dua sampai empat produk BBM.

“Ini jadi acuan Peraturan Menteri LHK (Lingkungan Hidup dan Kehutanan) No.20 tahun 2017 (tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori M, N, dan O), dimana bensin minimum harus RON (Research Octane Number) 91," papar Nicke dalam rapat dengar pendapat bersama komisi VII, Senin (31/8/2020).

Adapun enam produk gasoline (bensin/BBM) Pertamina antara lain; Premium dengan RON 88, RON 89, lalu Pertalite 90, Pertamax RON 92, lalu Pertamax Plus RON 95 dan Pertamax Turbo RON 98.

Sebagai perbandingan, Singapura, Australia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam hanya memiliki dua jenis bensin dengan RON di atas 90. Dimana Singapura hanya menjual bensin dengan RON 92 dan 98, Australia RON 91 dan 98, Malaysia RON 95 dan 97, Thailand RON 91 dan 95, dan Vietnam RON 92 dan 95.

Sementara India dan Myanmar memiliki tiga jenis bensin di atas RON 90. Yakni RON 91, RON 92, RON 98 (Myanmar) dan RON 99 (India). Sedangkan China dan Filipina memiliki empat jenis bensin, di mana Filipina menjual bensin RON 91, RON 95, RON 97, dan RON 100, sementara China dimulai dari RON 89, 91, 95, dan 98.

Nicke menuturkan, bila mengikuti Peraturan Menteri LHK tersebut, maka akan ada dua produk yang tidak boleh dijual di pasar, yaitu Premium dan Pertalite. Padahal porsi konsumsi dari kedua jenis bensin tersebut merupakan yang paling besar. "Itu alasan yang paling kuat kenapa kita perlu review kembali varian BBM kita karena itu benchmark-nya," ujarnya.

Selain itu, Nicke juga memaparkan tujuh negara yang saat ini masih menggunakan bensin di bawah RON 90. Diantaranya, Bangladesh, Colombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, Uzbekistan, dan Indonesia.

"Oleh karena itu, kita dorong agar konsumen yang mampu beralih ke ron 92, kita sekarang memiliki Program Langit Biru," kata Nicke.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya