Rupiah Sentuh 16.225 per Dolar AS, Apa Kabar Intervensi BI?

Merespons pelemahan rupiah yang terus terjadi, Bank Indonesia (BI) pun mengeluarkan beberapa kebijakan.

oleh Liputan6.comDiterbitkan 20 Maret 2020, 17:10 WIB
Aktivitas penukaran uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar Rupiah pada Kamis (19/3) sore ini bergerak melemah menjadi 15.912 per dolar Amerika Serikat, menyentuh level terlemah sejak krisis 1998. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Indonesia terganggu akibat penyebaran virus Corona sejak Februari 2020. Nilai tukar rupiah pun terus melemah bahkan pada perdagangan Jumat ini Sempat menyentuh 16.225 per Dolar AS. 

Merespons kondisi ini, Bank Indonesia (BI) pun mengeluarkan beberapa kebijakan. "Pertama kami turunkan suku bunga acuna Bank Indonesia sebanyak 25 basis poin," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Rapat koordinasi Kemenko Bidang Perekonomian secara virtual, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Saat ini suku bunga acuan BI berada di angka 4,5 persen.

Langkah ini diambil untuk memberikan kemudahan bagi dunia usaha dan masyarakat dalam mendapat pembiayaan dari perbankan. Setelah menurunkan suku bunga, Perry mengaku telah meminta OJK untuk mendorong kalangan perbankan ikut menurunkan suku bunga kredit. Tujuannya agar bisa mendorong perekonomian lebih lanjut.

Kedua, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilitasi nilai tukar rupiah dengan melalui intervensi baik di pasar spot, pembelian DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder. Triple intervention ini terus dilakukan bank sentral di tengah penarikan modal asing yang terjadi tak hanya di Indonesia.

"Sejauh ini pembelian SBN dipasar sekunder Rp 163 triliun, yang dilepas investor asing agar kita berikan stabilitas rupiah dan SBN," kata Perry.

Ketiga, Bank Indonesia terus melakukan injeksi likuiditas baik rupiah dan valas. Injeksi likuditas ini sudah mencapai hampir Rp 300 triliun. Dalam bentuk pembelian SBN di pasar sekunder sekaligus injeksi likuiditas di pasar uang dan perbankan senilai Rp 63 triliun.

Tak hanya itu. Bank Indonesia juga melaporkan repo bagi bank yang kecil seperti buku I dan buku II repo kan SBN ke Bank Indonesia.

"Sejauh ini lebih dari Rp 53 triliun Bank Indonesia melakukan repo. Awal tahun kami telah turunkan GWM menambah likuiditas dan 1 April kami akan tambah penurunan GWM lagi 50 basis poin, " kata Perry.

 

Jokowi Perintahkan BI Stabilkan Rupiah

Teller menunjukkan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta Bank Indonesia (BI) fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan di tengah situasi pandemi Corona Covid-19. Saat ini nilai tukar rupiah sudah tembus 16.000 per dolar AS. 

"Saya minta BI fokus terus jaga stabilitas nilai tukar rupiah, jaga inflasi, dan mempercepat penggunaan rekening rupiah di dalam negeri," kata Jokowi, melalui video conference dari Istana Bogor Jawa Barat, Jumat (20/3/2020).

Dia juga meminta BI berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan untuk memastikan ketersediaam likuiditas dalam negeri. Selain itu, BI juga diminta meningkatkan mitigasi risiko di tengah pandemi Corona.

"Kemudian memantau setiap saat terhadap sistem keuangan dan mitigasi keuangan sekomprehensif, sedetail mungkin," tutur Jokowi.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat akhir pekan ini. Rupiah sudah tembus ke level psikologisnya yaitu 16.000 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya