19-8-1960: Pilot Mata-Mata Amerika Serikat Dijatuhi Hukuman Penjara oleh Uni Soviet

Francis Gary Powers, pilot Amerika Serikat, menjalani proses pengadilan di Uni Soviet karena dituduh memata-matai Negeri Komunis itu.

oleh Rasheed Gunawan diperbarui 19 Agu 2018, 06:00 WIB
Clarence Johnson dan Francis Gary Powers di depan U-2 (Foto Gary Powers, Jr. / Cold War Museum via AP)

Liputan6.com, Washington DC - Hari ini, 58 tahun silam, 19 Agustus 1960, menjadi hari penentuan nasib bagi Francis Gary Powers, pilot Amerika Serikat yang menjalani proses pengadilan di Uni Soviet. Powers dijatuhi hukuman penjara 10 tahun karena dianggap terbukti memata-matai Negeri Tirai Besi. 

Powers, yang bekerja untuk Badan Inteligen AS (CIA), terbang ke Uni Soviet dan melakukan aktivitas spionase. Aksi Powers ini diketahui Uni Soviet setelah pesawatnya ditembak jatuh pada 1 Mei 1960.

Kala itu, ia sedang terbang setinggi 20.760 meter, melintasi langit selatan Sverdlovsk, 1.368 km sebelah timur Moskow. Tim militer Soviet yang curiga dengan keberadaan pesawat tersebut lantas menembaknya jatuh. Powers berhasil selamat, tapi kemudian ia ditangkap.

Dalam putusannya, pengadilan Uni Soviet mengatakan bahwa penerbangan di rute yang dilintasi pesawat U-2 yang dikendalikan Powers merupakan sebuah ancaman, dan tak diragukan lagi memiliki tujuan buruk bagi negeri komunis tersebut.

Sementara itu, Powers berdalih bahwa penerbangan pada ketinggian tersebut berada di zona aman, yang menurut dia, boleh dilintasi dan berada di luar jangkauan tembakan senjata antipesawat. Ia pun mendeskripsikan situasi saat ditembak.

"Saya merasakan ledakan di bagian belakang dan ada semacam kilat berwarna oranye," ungkap Powers, seperti dimuat BBC.

Setelah pesawat Powers jatuh, tentara Soviet datang ke lokasi untuk menggeledah puing-puing pesawat. Ditemukan sejumlah rekaman film lapangan udara Soviet, target militer dan lokasi industri militer lainnya.

Saat ditanya mengapa melakukan penerbangan pada tanggal 1 Mei, Powers mengaku bahwa ia sedang mencari situs peluncuran roket. Ia juga mengatakan ditawari pekerjaan tersebut oleh CIA dengan bayaran tinggi. Selain itu, ia ditugaskan untuk terbang sepanjang perbatasan Soviet untuk mengambil informasi dari radar.

Dalam pembacaan putusan, pengadilan mendapat informasi bahwa Powers datang ke Soviet dengan dilengkapi peralatan darurat, termasuk uang dan emas. Ada juga mekanisme sistem untuk menghancurkan pesawat demi menghilangkan jejak. Powers juga dibekali pin beracun yang memungkinkan ia melakukan bunuh diri jika nanti ia disiksa.

Powers menyampaikan, Amerika Serikat berniat untuk melakukan aksi provokatif lewat misi dengan pesawat yang diterbangkannya ke wilayah udara Soviet, bikin situasi Perang Dingin semakin panas, memperparah ketegangan di dunia internasional, serta menghentikan dialog diplomasi dua kekuatan besar tentang perlucutan senjata.

Presiden AS saat itu, Eisenhower, memprotes bahwa hukuman untuk Powers terlalu berat. Kendati demikian, Amerika Serikat bergeming, tidak langsung melakukan aksi yang signifikan.

Negeri Paman Sam mulai bergerak pada tahun 1962. Tepatnya pada 10 Februari, Powers berhasil bebas sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan. Sebagai balasan, AS mengembalikan mata-mata Uni Soviet Kolonel Rudolph Abel.

Sejarah lain mencatat pada 19 Agustus 1612, tiga perempuan dari Desa Lancashire dari Samlesbury, Inggris dihadapkan ke pengadilan, atas tuduhan melakukan sihir.

Sementara pada 1960, dalam program Sputnik, Uni Soviet meluncurkan satelit yang membawa 2 anjing, Belka dan Strelka, 40 celurut, 2 tikus, dan sejumlah tanaman.

Pada 19 Agustus 2003, serangan bom mobil dilakukan ke markas PBB di Irak. Membunuh utusan organisasi dunia itu, Sergio Vieira de Mello dan 21 petugas lainnya.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

 

Saksikan video ppilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya