Kesaksian Ratu Yordania Saat Kunjungi Kamp Pengungsi Rohingya...

Ratu Rania mengunjungi kamp pengungsi di Cox's Bazar dalam kapasitasnya sebagai anggota IRC dan penyokong badan kemanusiaan PBB.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 24 Okt 2017, 16:35 WIB
Ratu Yordania Rania menyalami anak-anak Rohingya di kamp pengungsian Kutupalong di Ukhia (23/10). Kunjungan tersebut sengaja dilakukan untuk menemui para pengungsi Rohingya di sana yang melarikan diri dari Myanmar. (AFP Photo/Tauseef Mustafa)

Liputan6.com, Dhaka - Situasi pengungsi Rohingya di Bangladesh "menyayat hati dan sangat menyedihkan". Hal tersebut disampaikan oleh Ratu Yordania Rania Al-Abdullah (47) setelah ia mengunjungi kamp pengungsian di Cox's Bazar pada Senin waktu setempat.

"Kita harus bertanya, mengapa keadaan kelompok minoritas muslim ini diabaikan? Mengapa penganiayaan sistematis ini telah diizinkan terjadi begitu lama?," tanya istri dari Raja Abdullah ini seperti dikutip dari Daily Mail pada Selasa (24/10/2017).

Ia menggambarkan kekerasan yang dialami warga Rohingya sebagai sesuatu yang "tak terbayangkan".

"Saya mendengar tentang pemerkosaan sistematis terhadap gadis-gadis muda yang terjebak di sekolah oleh oknum tentara. Saya mendengar bayi-bayi ditendang seperti bola dan diinjak. Saya mendengar cerita anggota keluarga bagaimana orangtua mereka dibunuh, tepat di depan mata mereka. Ini sesuatu yang tidak bisa diterima," ujar Ratu Rania seperti dilansir thenational.ae.

"Dunia sepertinya diam atas apa yang banyak diakui orang sebagai pembersihan etnis muslim Rohingya".

Perempuan berdarah Palestina tersebut menyerukan dukungan internasional yang jauh lebih besar terhadap sekitar 600 ribu pengungsi Rohingya. "Dengan tidak menghormati dan menghargai prinsip-prinsip kemanusiaan dan hukum internasional, diskriminasi dan penganiayaan terhadap warga minoritas Rohingya terus berlanjut, di hadapan dunia".

Ratu Rania mengunjungi kamp pengungsi di Cox's Bazar dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan Komite Penyelamatan Internasional (IRC) dan penyokong badan kemanusiaan PBB. Dalam kesempatan tersebut, Ratu Rania sempat berbincang dengan sejumlah pengungsi wanita.

Pada saat bersamaan, ibu empat anak tersebut memuji pemerintah dan rakyat Bangladesh atas dukungan dan perhatian mereka terhadap para pengungsi.

"60 persen dari pengungsi adalah anak-anak dan itu sebagian karena laki-laki di atas usia 12 tahun secara sistematis dibunuh. Dan menurut apa yang saya dengar dari UNICEF, 14 ribu anak-anak ini berisiko meninggal akibat kekurangan gizi," ungkap sang ratu.

Selama kunjungan tersebut, Ratu Rania meninjau fasilitas darurat di kamp pengungsian, termasuk pusat perawatan kesehatan yang dikelola badan pengungsi dan sebuah sekolah yang telah diubah menjadi tempat penampungan bagi pendatang baru.

Ketika Rania mengunjungi Bangladesh, di belahan dunia lainnya, tepatnya di Jenewa, Swiss, para pemangku kebijakan tengah berkumpul untuk menggalang dana bagi krisis Rohingya.

Di Cox's Bazar, Ratu Rania didampingi oleh Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali dan Menteri Negara Urusan Perempuan dan Anak-Anak Meher Afroze Chumki.

Louise Aubin, selaku koordinator senior badan pengungsi PBB di Cox's Bazar, mengatakan bahwa kunjungan tersebut menunjukkan "empati dan rasa marah" Ratu Rania tentang apa yang menimpa warga Rohingya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya