Aksi Emak-Emak Tantang Duel Kera Nakal

Ketika musim kemarau tiba, kera-kera itu berubah menjadi lebih agresif.

oleh Muhamad Ridlo diperbarui 23 Sep 2017, 19:04 WIB
Kawanan kera bergerombol di jalanan layaknya preman, sebelum menyerbu rumah penduduk yang terbuka. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo).

Liputan6.com, Banyuman - Seorang ibu paruh baya tiba-tiba menjerit. Pengunjung Masjid Saka Tunggal, Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas itu baru keluar dari masjid ketika seekor kera berukuran sedang, secara tak terduga, menjambret tas kresek yang dibawanya.

Mendadak, terjadi adegan lucu antara ibu apes versus kera yang nakal itu. Si kera, ngotot menarik tas plastik hitam itu. Namun, si ibu pun tampak geram dan ogah kalah. Dia mempertahankan kresek miliknya itu mati-matian. Entah apa isinya.

"Wah, kaget sayanya. Mau diambil," ujar ibu itu menggerutu, Jumat, 22 September 2017.


Rupanya, aksi kera nakal itu bukan satu-satunya yang terjadi di kawasan yang didiami ratusan kera itu. Banyak pula pengunjung yang terkecoh dan kehilangan barang bawaan saat tengah bersantai.

Si kera nakal memiliki siasat tersendiri untuk mengambil barang. Caranya, mereka diam-diam dari belakang langsung mengambil barang milik pengunjung atau istilah warga setempat, mbokong.

"Untung yang diambil cuma minumannya. Coba kalo hape saya," ujar Nani, pengunjung lainnya.

Nani mengaku heran dengan tabiat kera yang tiba-tiba berubah lebih agresif beberapa waktu belakangan ini. Terakhir kali, sekitar setengah tahun lalu, kera-kera itu cenderung jinak. Kelihatannya, mereka kelaparan. Apa saja yang diberikan pengunjung pasti habis dimakan.

Ekspresi lucu emak-emak mempertahankan mati-matian tas kresek yang dijambret kera nakal. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo).

Perubahan perilaku kera-kera itu diakui oleh warga setempat. Karsini (43), mengatakan jika dibanding musim penghujan, pada puncak musim kemarau ini kera-kera itu memang berubah lebih agresif.

Hal itu terjadi sejak kemarau panjang melanda wilayah ini. Pucuk-pucuk daun maupun buah yang biasa menjadi santapan kera pun tak tumbuh. Akibatnya, mereka menyebar mencari makanan hingga ke perumahan penduduk.

"Gentengnya pada melorot semua. Monyetnya pinter banget. Apa ya, kadang-kadang masuk ke rumah dari angin-anginan rumah. Nyolong makanan," ujar Karsini.

Ia pun terpaksa menyumpal lubang angin dengan cara menutupnya dengan kardus atau karung bekas. Bahkan, untuk ukuran lubang yang besar, dia terpaksa menutupnya dengan papan.

"Kalau musim hujan sih enggak kaya gini. Mereka cari makanannya ke hutan. Kalau enggak cukup dari pengunjung," dia menuturkan.

Tak hanya ke perumahan warga, rupanya kera-kera nakal itu juga menyasar ladang penduduk. Apa saja dimakannya. Semua yang ada di ladang habis tak tersisa.

"Apa saja dimakan. Jagung dimakan. Ubi dimakan. Pokoknya apa saja di ladang habis sama monyet," tutur Karsini.

Namun, lantaran kera-kera itu dianggap penunggu kawasan keramat Masjid Saka Tunggal, warga pun hanya berupaya mengusir kera ketika mereka menyerbu ladang, tanpa menyakiti. Bagi warga, kondisi itu sudah selalu terjadi setiap tahunnya.

"Sudah kebiasaan tiap tahun. Kalau kemarau ya begini. Kelapa juga habis buahnya," Karsini menambahkan.

Meski begitu, ia pun mengaku heran dengan pemerintah yang seolah tak tanggap dengan keberadaan kera yang kelaparan di musim kemarau. Dia menyebut, tak ada bantuan pemerintah untuk memberi makan kera-kera itu. "Kalau warga ya kasih apa saja. Nasi bekas ya dikasih. Buah sisa ya dikasih. Biar mereka tidak kelaparan dan makin galak," Karsini memungkasi.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya