Arab Saudi Siapkan Layanan Terbaik untuk Jemaah Haji Indonesia

Kepala PPIH Daker Mekah Nasrullah Jassam mengatakan, tantangan besar haji tahun ini adalah kembali kuota ke porsi normal.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 02 Agu 2017, 09:13 WIB
Rapat koordinasi Kepala PPIH Arab Saudi dengan Muassassah al-Muthawif Asia Tenggara di Mekah (Liputan6.com/ Taufiqurrohman)

Liputan6.com, Mekah - Pemerintah Arab Saudi melalui Muassassah al-Muthawif Asia Tenggara menegaskan akan memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia.

Kepala Muassassah al-Muthawif Asia Tenggara Yousif A Jaha, secara umum banyak peningkatan pelayanan yang akan diberikan untuk jemaah pada musim haji tahun ini dibandingkan tahun lalu.

"Tahun ini banyak perubahan (pelayanan), jemaah akan menyaksikan sendiri," kata Yousif usai menggelar rapat koordinasi dengan Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Mekah, Selasa 1 Agustus 2017.

Pria berdarah Serang, Banten ini menyebutkan, di antara perbaruan pelayanan itu adalah pergantian tenda-tenda untuk keperluan wukuf di Arafah, pemasangan alat pendingin udara di beberapa titik yang bisa menyemprotkan air untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem.

"Pengadaan fasilitas tersebut belajar dari pengalaman tahun-tahun lalu," tutur dia.

Menyikapi banyaknya jemaah haji Indonesia risiko tinggi atau risti, dia mengatakan fasilitas juga telah disiapkan. Sebanyak 12 ribu karpet baru disediakan untuk jemaah haji selama berada di Muzdalifah dan menyiapkan batu-batu sejak ada di kawasan ini agar memudahkan jemaah.

"Insya Allah kami berikan yang terbaik," kata dia.

Yousif mengatakan, untuk persiapan Arafah Mina, dia meminta muassasah dari Asia Tenggara, Afrika, dan Irak secepatnya menyiapkan jadwal pelemparan jamarat. Ini dengan tujuan agar segera bisa disesuaikan pergerakan mereka selama puncak haji nanti. Pihaknya telah berkoordinasi sejak Ramadan lalu dan terus dilakukan hingga sekarang.

"Kita minta jemaah mematuhi jadwal," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala PPIH Daker Mekah Nasrullah Jassam mengatakan, tantangan besar haji tahun ini adalah kembali kuota ke porsi normal. Kuota Indonesia normal menjadi 221 ribu jemaah haji.

Penambahan ini, imbuh Nasrullah, harus dikoordinasikan segera dengan berbagai stake holder, terutama dari pemilik maktab. Tiap sektor ada tujuh hingga delapan maktab untuk menyamakan persepsi operasional haji 2017.

"Seperti soal tanazul, jadwal lempar jamarat, dan lainnya," terang dia.

Dalam pertemuan itu pula, Nasrullah meminta kepada muassasah terkait informasi jumlah maktab yang ada di Mina Baru atau Mina Jadid. Ia berharap, jemaah haji Indonesia nantinya pada penempatan seluruhnya berada di Mina awal, bukan Mina Jadid.

Terkait jadwal lempar jamarat, Nasrullah mengatakan berdasarkan jadwal, satu grup sekali jalan berjumlah 250 orang. Pihak Muassasah meminta usulan kepada Daker Mekah jika jumlah grup kurang dari satu kloter. Dengan demikian pergerakan jumlah jemaah bisa diatur, terutama pada 10 Dzulhijjah nanti.

Dia juga menyebutkan, sistem baru pada pelaksanaan haji tahun ini adalah teknis pergerakan jemaah dari hotel ke Arafah. Sebelumnya teknis tersebut melalui mekanisme lantai yang ditempati jemaah. Jemaah di lantai pertama lebih dulu berangkat ke Arafah, demikian seterusnya.

Sementara pada tahun ini, penentuannya ditetapkan melalui mekanisme undian atau qur'ah. Mekanisme ini memiliki titik rawan penumpukan karena bisa jadi justru yang keluar ada jemaah yang tinggal di lantai 10.

"Kita masih terus koordinasikan perkembangannya," kata Nasrullah.

 

Saksikan video di bawah ini:

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya