Laju Harga Emas Tertahan Kebijakan Bank Sentral

Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun US$ 1,70 per ounce menjadi US$ 1.244,10 per ounce.

oleh Arthur Gideon diperbarui 01 Jul 2017, 07:12 WIB
Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun US$ 1,70 per ounce menjadi US$ 1.244,10 per ounce.

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas tertekan pada perdagangan Jumat dan menuju kerugian bulanan terbesar di tahun ini. Pelemahan harga emas memang terjadi sejak Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan.

Mengutip Reuters, Sabtu (1/7/2017), harga emas di pasar spot turun 0,1 persen pada US$ 1.244,40 per ounce pada pukul 14.15 GMT. Sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus turun US$ 1,70 per ounce menjadi US$ 1.244,10 per ounce.

Harga emas di pasar spot tersebut turun hampir 2 persen jika dihitung dari awal Juni dan turun 0,4 persen jika dihitung dari awal kuartal II.

Dalam enam bulan terakhir ini, harga emas memang sempat menguat cukup tajam pada tiga bulan pertama atau pada kuartal I. Namun kemudian pada kuartal II harga emas terombang-ambing dan akhirnya tertekan di tengah Juni.

Sentimen terbaru yang mempengaruhi harga emas adalah komentar dari pejabat Bank Sentral Inggris dan Kanada yang menyatakan bahwa mereka secara perlahan akan mengurangi kebijakan pelonggaran moneter karena krisis keuangan sudah mulai berakhir.

Dengan adanya pernyataan tersebut, pelaku pasar melihat bahwa Bank Sentral Inggris dan Kanada akan melakukan normalisasi tingkat suku bunga secara bertahap.

Komentar dari para pejabat kedua bank sentral tersebut setelah Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan pada pertengahan Juni. The Fed juga mengindikasikan bahwa kebijakan untuk menaikkan suku bunga terus akan dilakukan secara bertahap.

Selain itu, the Fed juga berencana untuk mengurangi kepemilikan obligasi senilai US$ 4,5 triliun.

"Sebenarnya yang paling penting bagi pasar emas adalah kebijakan moneter di AS. Jika suku bunga terus naik maka harga emas terus mengalami tekanan," jelas analis LBBW, Thorsten Proettel.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya