Banyak Aplikasi Palsu Muncul di Smartphone Baru, Apa Itu Bahaya?

Tanpa disadari, banyak aplikasi bermunculan di smartphone baru yang sebenarnya bukan bawaan dari smartphone tersebut.

oleh Iskandar diperbarui 20 Jun 2017, 04:00 WIB
Head of Android Google Sundar Pichai mengatakan jika ia berada di bisnis menciptakan malware, ia kemungkinan akan menargetkan Android juga.

Liputan6.com, Jakarta - Seiring beredarnya berbagai macam aplikasi, seringkali banyak aplikasi tidak resmi alias aplikasi palsu muncul di smartphone baru.

Tanpa disadari, banyak aplikasi bermunculan di smartphone baru yang sebenarnya bukan bawaan dari smartphone tersebut dan menyebabkan banyaknya adware (iklan mengganggu) bermunculan setelah mengaktifkan smartphone.

Ciri-ciri paling mudah untuk mengetahui smartphone yang sudah ter-install aplikasi palsu adalah ketika smartphone baru tersebut dinyalakan, lalu tidak terdapat halaman pengaturan awal Android yang menanyakan bahasa, pengaturan waktu, koneksi, nama pengguna, dan lain sebagainya.

Bagaimana hal ini bisa terjadi? “Kasus adware bisa dibilang sangat meresahkan konsumen karena membuat smartphone tidak nyaman dalam penggunaannya. Awalnya kita seringkali beranggapan munculnya banyak adware karena adanya virus/malware yang ter-install di smartphone kita," kata Suryadi Willim, Head of Marcomm ATL Evercoss.

Namun, katanya, setelah penelusuran dari tim Evercoss lebih jauh, bukan hanya malware yang menyebabkan hal ini terjadi tetapi juga karena ada oknum nakal yang bekerja sama dan mendapatkan bayaran per-install dari salah satu publisher aplikasi.  

Melalui keterangan tertulisnya, Selasa (20/6/2017), Suryadi mengungkap modus oknum tersebut meng-install beberapa aplikasi tanpa sepengetahuan konsumen dan sebelum smartphone baru terjual di tangan konsumen.

"Hal ini dibuktikan dengan temuan beberapa smartphone Evercoss yang sudah ter-install beberapa aplikasi tidak resmi di sejumlah pasar pusat smartphone. Dan tidak bisa dimungkiri hal ini pun bisa terjadi pada brand lain," ujarnya menambahkan

Suryadi menyebut, hal ini sangat meresahkan bagi konsumen dan juga bagi principal karena akan merugikan kedua pihak. Dari sisi konsumen rugi karena akan menyedot baterai dan data. Sedangkan dari pihak principal akan dirugikan karena konsumen akan beranggapan Evercoss banyak virus/malware.

"Oleh karena itu, kami selalu mengedukasi konsumen melalui sosial media Evercoss untuk lebih peka terhadap aplikasi yang pertama kali muncul pada saat membeli smartphone," imbaunya.

Namun konsumen tidak perlu khawatir, munculnya aplikasi tidak resmi bisa diatasi dengan cara melakukan factory reset atau factory mode pada smartphone. Setelah melakukan factory reset, akan muncul aplikasi yang memang bawaan dari smartphone.

Untuk melakukan factory reset, pilih menu Setting/pengaturan> Back up & reset> Reset phone> Erase everything. Atau bisa juga dilakukan dengan cara kedua, yaitu Factory mode: Matikan smartphone> Tekan tombol power + tombol volume up secara bersamaan> Pilih Factory mode> Factory reset.

Factory reset direkomendasikan ketika saat pertama kali membeli smartphone. Evercoss sendiri akan melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap oknum tidak bertanggung jawab yang dicurigai mempunyai kepentingan lain.

“Evercoss akan menindak tegas terhadap oknum yang kedapatan melakukan kecurangan,” pungkas Suryadi.

(Isk/Ysl)

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya