Respons Ketua Dewan Pers Terkait Peretasan Situs

Laman Dewan Pers tersebut dinilai penting karena acap dijadikan rujukan orang untuk memeriksa sejumlah hal terkait pers.

oleh Liputan6.com diperbarui 31 Mei 2017, 14:59 WIB
Situs Dewan Pers diretas (Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo menyesalkan terjadinya peretasan terhadap laman resmi lembaganya, dewanpers.or.id. Laman Dewan Pers tersebut dinilai penting karena acap dijadikan rujukan orang untuk memeriksa sejumlah hal terkait pers.

"Kami menyesalkan lah, menurut saya peretasan itu tidak bijaksana orang yang memilih situs Dewan Pers," kata pria yang akrab disapa Stanley itu saat dihubungi di Jakarta, Rabu (31/5/2017).

"Situs itu kan untuk kepentingan publik, misalnya orang bisa mengecek seseorang wartawan abal-abal atau bukan, medianya terdaftar di Dewan Pers atau tidak," dia menambahkan.

Lebih lanjut, Stanley mengatakan, di laman Dewan Pers juga terdapat banyak peraturan dan seruan terkait pers Indonesia, yang kerap dijadikan referensi untuk pemeriksaan berbagai hal, sehingga disayangkan menjadi sasaran peretasan.

Kendati demikian, terkait pesan yang diunggah oleh peretas di laman Dewan Pers mengenai keprihatinan terhadap kondisi bangsa saat ini, Stanley mengaku ia dan rekan-rekannya di Dewan Pers juga merasakan hal yang sama.

"Kalau pesan yang disampaikan dalam peretasan itu sih kami juga prihatin dengan kondisi Indonesia, kami setuju saja," kata Stanley seperti dikutip dari Antara.

"Cuma kenapa kok sasarannya Dewan Pers, entah pelakunya sudah memperhitungkan belum apa dampaknya terhadap publik yang biasa mengunjungi situs Dewan Pers," ujar Stanley.

Laman Dewan Pers sempat tidak bisa diakses setelah pukul 08.44 WIB, laman itu langsung menunjukkan pesan dengan huruf merah berlatar hitam serta lambang Garuda Pancasila berwarna merah yang terkoyak di atasnya.

Pesan yang diiringi musik latar lagu wajib nasional Gugur Bunga gubahan Ismail Marzuki tersebut berbunyi:

"Ketika garuda kembali terluka karena provokasi mahkluk durjana.. Ketika semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" kembali terabaikan karena aksi oknum yang mengatasnamakan agama.. Ketika ayat ayat suci jadi bahan perdebatan oleh orang orang yang merasa memiliki surga.. Ketika perjuangan pahlawan kemerdekaan sudah dilupakan begitu saja oleh mereka yang merasa paling berjasa.."

"Tolong hentikan semua perpecahan ini, tuan.. Negaraku, bukan negara satu agama atau milik kelompok perusak adat budaya juga bukan milik satu golongan.."

Pesan tersebut ditutup dengan tagar "#DamailahIndonesiaku #JayalahBangsaku #Kita Indonesia".

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya