Miliarder Warren Buffett Prediksi Toko Ritel Tak Akan Bergairah

Miliarder Warren Buffett menilai saat ini industri ritel begitu ketat persaingannya dengan online.

oleh Agustina Melani diperbarui 14 Mei 2017, 10:00 WIB
Angka tersebut sukses melampaui pendapatan lelang yang didapat pada tahun sebelumnya.

Liputan6.com, Jakarta - Miliarder Warren Buffett menyatakan industri ritel akan lesu dalam 10 tahun. Ia menyatakan itu saat menghadiri rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan Berkshire Hathaway di Omaha, Nebraska pada akhir pekan lalu.

"Department store sekarang adalah online. Saya tidak punya gambaran 10 tahun ke depan industri ritel akan sama seperti sekarang. Ada sejumlah hal yang akan mengejutkan kita. Dunia makin berkembang, dan kecepatan-nya terus meningkat," jelas Buffett seperti dikutip dari laman Business Insider, seperti ditulis Minggu (14/5/2017).

Partner Buffett, Charlie Munger juga berpendapat sama soal department store. "Pasti akan tidak menyenangkan jika kita berada di bisnis department store," ujar dia.

Buffett tidak hanya prediksi masa depan industri ritel tradisional, tetapi juga menarik uangnya dari industri tersebut. Perusahaan dia, Berkshire Hathaway telah memberi sinyal mengenai industri ritel ketika menjual saham Walmart senilai US$ 900 juta pada Februari kemudian investasikan miliaran dolar Amerika Serikat di industri penerbangan.

Penjualan itu juga membuat Buffett tidak memiliki saham di Walmart, yang merupakan peritel terbesar di dunia. Saat wawancara dengan CNBC usai penjualan saham itu, Buffett mengatakan, kalau ritel terlalu tangguh sebagai investasi terutama di masa Amazon.

"Menurut saya ritel sangat sulit bagi saya, hanya secara umum. Kami beli department store pada 1966, dan diserahkan kepada saya. Saya telah melakukan berbagai hal di bidang ritel. Saya membeli Tesco di Inggris, dan ritel begitu sulit. Saya pikir online juga sulit untuk diketahui," kata dia.

Pernyataan Buffett usai terjadi pergolakan besar-besaran untuk industri ritel. Peritel AS telah menutup toko dan mengajukan kebangkrutan. Salah satunya ritel Brick and Mortar yang mengumumkan penutupan toko lebih dari 3.200. Analis Credit Suisse memperkirakan, penutupan toko akan lebih besar bisa menjadi lebih dari 8.600.

Penutupan toko ini muncul seiring maraknya e-commerce dan tren pergeseran bagaimana orang menghabiskan uang. Kini pembeli lebih menyukai habiskan uang untuk hiburan, restoran dan teknologi. Pembeli kurang minat pada pakaian dan aksesoris.

Department store di AS yaitu Macy's, Sear dan JC Penney pun telah terpukul oleh tren itu. Sejak 2001, department store telah kehilangan 500 ribu pekerjaan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya