Aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi Tantang Raksasa Otomotif Dunia

Aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi, masih kalah ketimbang aliansi Toyota-Daihatsu, dan Volkswagen Group.

oleh Rio Apinino diperbarui 26 Apr 2017, 13:18 WIB
Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi (Foto: CNN.com).

Liputan6.com, Bekasi - Aliansi Nissan-Renault dan Mitsubishi yang resmi berdiri tahun lalu segera tumbuh menjadi salah satu pabrikan otomotif terbesar, baik dalam skala global maupun dalam skala lokal, dalam hal ini Indonesia.

Namun demikian, aliansi tiga pabrikan ini memang belum benar-benar jadi yang paling besar. Ada kelompok otomotif lain yang masih jauh berada di atas mereka.

Sepanjang tahun lalu, aliansi hanya mampu menduduki posisi ketiga penjualan mobil secara global. Total pengiriman mobil aliansi besar ini tetap masih kalah dari Volkswagen (VW) dan Toyota, yang masing-masing menduduki posisi satu dan dua.

Pengiriman mobil VW sebanyak 10,3 juta unit, sementara Toyota 10,2 juta. Nissan-Renault-Mitsubishi sendiri mencatatkan angka 9,96 juta unit, lebih banyak 4.000 unit ketimbang General Motors (GM) yang menduduki posisi empat.

Di Indonesia, aliansi ini juga masih terganjal "gurita" yang lebih besar, yaitu aliansi Toyota-Daihatsu. Jika ditotal, pangsa pasar keduanya lebih dari 50 persen.

Liputan6.com berkesempatan menanyakan aliansi yang lebih besar sekaligus potensi aliansi baru ini kepada Trevor Mann, Chief Operating Offier (COO) of Mitsubishi Motors saat berkunjung ke Indonesia.

Menurut Mann, pihaknya, dan juga aliansi, tidak terlalu fokus untuk mengejar ketertinggalan ini. Ia mengatakan bahwa yang seharusnya dilakukan adalah membuat proses yang baik, maka hasil yang baik pun akan mengikuti.

"Jadi nomor satu itu bukan target, tapi hasil. Yang paling penting bagi kami adalah apa yang kami lakukan, soal sales, sparepart, servis. Apa yang kami lakukan sudah benar? Semua itu harus dipastikan dilakukan dengan baik," terangnya, di pabrik baru Mitsubishi di Bekasi, Selasa (25/4) kemarin.

Khusus menanggapi aliansi Toyota-Daihatsu, Mann secara terbuka mengakui bahwa mereka begitu dominan. Untuk itu, diperlukan strategi yang serius.

"Mulai mengatur silang teknologi, supplier, modal. Kalau semua dilakukan saya pikir kami bisa tumbuh. Untuk Indonesia, caranya adalah dengan menguatkan citra merek. Mitsubishi sudah dikenal sebagai pabrikan yang (modenya) tahan lama. Kami punya reputasi baik di komersil, kami dipercaya di pasar," tambahnya.

Mann mengatakan, satu strategi unggulan sekaligus yang akan segera dieksekusi adalah meluncurkan produk low MPV baru. Low MPV adalah segmen terbesar di bisnis roda empat, sekaligus yang berkontribusi besar mengantarkan Toyota-Daihatsu ke puncak klasemen bisnis (dengan model Avanza dan Xenia).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya