Inspirasi Batik Betawi bagi Mahasiswa Bengkulu

Para pembatik Betawi mengusung simbol kearifan lokal Betawi dengan motif flora dan fauna.

oleh Yuliardi Hardjo Putro diperbarui 28 Mar 2017, 15:01 WIB
Para mahasiswa tergoda saat mendengarkan pemaparan pembatik yang berasal dari rumah susun Marunda di Dekranasda DKI Jakarta (Liputan6.com/Yuliardi Hardjo)

Liputan6.com, Bengkulu Sebanyak 10 orang mahasiswa penerima beasiswa Bank Indonesia yang tergabung dalam komunitas Generasi Baru Indonesia atau GenBI tergoda dengan batik Betawi. Mereka tertarik saat mendengar presentasi dari para pembatik khas Betawi yang tinggal di rumah susun Marunda Jakarta.

Para pembatik yang mengusung simbol kearifan lokal betawi dengan motif flora dan fauna seperti elang bondol, burung kipasan belang, kembang cempaka, dan ondel-ondel itu berhasil membuat para mahasiswa Bengkulu tergelitik mencontoh keberhasilannya. Khususnya untuk dibawa ke Bengkulu yang tengah melakukan pengembangan batik kain Besurek khas Bengkulu.

Ketua komunitas GenBI Bengkulu Rohmad Fadli mengatakan, budaya betawi yang dilestarikan dalam motif batik para penghuni Rusun Marunda itu sangat mengakar. Dengan strategi dan pembinaan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DKI Jakarta mampu menjadikan batik Betawi sebagai tuan rumah di negeri sendiri.

"Bagaimana mereka terus mempertahankan tradisi dan mengembangkannya, meskipun berasal dari warga bekas kawasan penggusuran sangat menginspirasi," ujar Rohmad di Bengkulu, Senin, 27 Maret 2017.

Sekretaris Dekranasda Provinsi DKI Jakarta, Ade Hasan Basri, mengatakan pihaknya sempat mendapat perlawanan dari warga Betawi saat melakukan pendataan dan sosialisasi pengembangan batik. Apalagi salah satu motif yang akan dikembangkan adalah ondel-ondel. Sebab menurut kepercayaan masyarakat, motif ondel-ondel hanya boleh dipasang pada kain yang bertujuan untuk mengusir roh jahat sejenis hantu atau jin saja.

"Kami berusaha meyakinkan dan berjanji melakukan modifikasi motif. Mereka bisa menerima dan kami lanjutkan pembinaan yang tujuannya jelas untuk meningkatkan perekonomian sambil mempertahankan tradisi," ujar Ade.

Jakarta memang tidak memiliki basis membatik, tetapi mereka mencari akar budaya dan tradisi yang dikembangkan melalui kreativitas. Dalam memasarkan hasil produksi para perajin dari Rusun Marunda ini, strategi mereka dengan menambahkan cerita atau sinopsis dari motif yang ditampilkan pada kain batik Betawi karya para perajin.

"Awalnya memang sulit membangun kepercayaan para pihak, kekuatan kita ada di filosofi dan ekonomi kreatif kerakyatan, nilai jualnya sangat tinggi," kata Ade.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya