Nasib Surat Suara Bergambar Ahok - Djarot Nyasar ke Jayapura

Surat suara bergambar Ahok - Djarot itu ditemukan saat penghitungan hanya tersisa tiga lembar surat suara Pilkada Jayapura.

oleh Katharina Janur diperbarui 16 Feb 2017, 10:02 WIB
Surat suara bergambar Ahok - Djarot itu ditemukan saat penghitungan hanya tersisa tiga lembar surat suara Pilkada Jayapura. (Liputan6.com/Katharina Janur)

Liputan6.com, Jayapura - Sebuah surat suara bergambar pasangan calon Gubernur DKI Jakarta Ahok - Djarot nyasar ke TPS 20 Kelurahan Ardipura, Kota Jayapura. Tidak seperti surat suara Pilkada DKI yang asli, gambar Ahok - Djarot itu tertempel di kolom kotak kosong yang berada di sebelah gambar calon tunggal calon Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano-Rustan Saru (BTM-HaRUS).

Ketua KPPS TPS 20 Kelurahan Ardipura Herry Sineri menuturkan, gambar nyeleneh tersebut ditemukan dalam penghitungan surat suara. Pihak PPS mengetahuinya setelah tersisa tiga lembar surat suara yang salah satunya ternyata tertempel gambar Ahok - Djarot.

"Warga pun ada yang tertawa. Ada yang bersorak senang, bahkan ada yang langsung foto-foto setelah ditemukan lembaran surat suara bergambar Ahok-Djarot," kata Herry kepada Liputan6.com, Kamis (16/2/2017).

Sampai saat ini, pihaknya tak mengetahui siapa yang menempelkan gambar Ahok - Djarot itu. Sebab di hari pencoblosan kemarin, antusiasme warga di TPS tersebut sangat tinggi.

"Akhirnya, tujuh petugas KKPS dan para saksi sepakat untuk tak menghitung lembaran itu karena dianggap tidak sah, walaupun si pelaku melakukan pencoblosan di kolom kosong," tutur dia.

Pilkada di Kota Jayapura memang hanya diikuti oleh calon tunggal, BTM-HaRUS. Hingga malam tadi, kubu BTM-HaRUS mengklaim kemenangan pasangan petahana ini sudah mengantongi 85 persen suara dari total pemilih 308.351 jiwa yang tersebar di lima distrik.

Koordinator strategi kampanye BTM-HaRUS, Ignatius Hasyim, mengklaim walaupun tingkat partisipasi warga hanya 70 persen dan ada pengacakan DPT di Kota Jayapura, tingkat partisipasi warga sesuai dengan target yang diharapkan tim kemenangan ini.

"Warga yang tidak memilih, bukan karena tidak suka dengan pasangan ini. Namun karena bingung, di mana seseorang itu akan coblos. Bayangkan saja, warga yang tinggal satu wilayah, seharusnya coblos di TPS terdekat di dekat rumahnya, malahan harus mencari namanya hingga kelurahan-keluarahan lainnya. Ini sangat membingungkan," ujar Ignatius.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya