Bantu Turunkan Harga, Pengusaha Ingin Bangun Industri Cabai

Pemerintah mencanangkan program menanam 50 juta cabai di Indonesia.

oleh Ilyas Istianur Praditya diperbarui 13 Jan 2017, 14:44 WIB
Bila warga mampu memanfaatkan lahan tersebut dengan menanam cabai, diperkirakan mampu menghasilkan omzet hingga miliaran rupiah per tahun. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Liputan6.com, Jakarta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Wilayah Indonesia Timur mendukung Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang mencanangkan program menanam 50 juta cabai di Indonesia.

Upaya menyukseskan program itu, Kadin KTI mendorong pengusaha memasuki bisnis ini.
 
“Kita berencana mengerahkan pengusaha utamanya di KTI masuk ke bisnis ini dan menanam cabai,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Kawasan Timur Indonesia Andi Rukman Karumpa di Jakarta, Jumat (13/1/2017).

Andi mengatakan, sebagai pengusaha, pihaknya tidak setuju membawa masalah cabai ke ranah politik. Jauh lebih konstruktif membawa isu kenaikkan komoditas dengan membantu pemerintah mencari solusi yaitu dengan menanam cabai atau membangun industri ini lebih baik ke depan.

“Pola pikir pengusaha itu sederhana. Kalau ada masalah, kita bantu carikan solusinya bukan memperpanjang masalah. Makanya, kita ingin ketemu dan bantu Pak Mentan selaku pengusaha dan bagaimana kita bisa sinergi dengan petani,” ujar Andi.
 
Andi mengatakan, kawasan timur Indonesia masih memiliki lahan tidur yang luas sehingga cocok untuk membangun industri cabai ke depan, sekaligus dapat meningkatkan taraf hidup petani.

Sebelumnya, Mentan telah mencanangkan program menanam 50 juta cabai di pekarangan seluruh Indonesia. Ia mengatakan jika tiap rumah tangga menanam pohon cabai akan menekan angka kemiskinan.

Tahun ini Mentan menargetkan 50 juta pohon. Bantuan dari pemerintah  sebanyak 10 juta pohon dan akan didistribusi ke daerah-daerah. Tujuannya adalah agar kebutuhan cabai nasional bisa terpenuhi, dan menekan inflasi, sekaligus menekan kemiskinan.
 
Andi mengatakan, industrilisasi cabai perlu segera digulirkan. Sebab, komoditas ini sudah mempengaruhi inflasi nasional. Artinya, ada gap yang besar antara permintaan yang tinggi dan rendahnya persediaan.

Namun, industrilisasi ini, ujar Andi, juga terhalang pola konsumsi masyarakat yang cenderung mengonsumsi cabai segar daripada olahan.
 
“Kita belum tiba pada pola konsumsi cabai olahan. Maunya semua konsumsi cabai segar. Kita kirim yang segar, tiba di konsumen sudah busuk atau mengering. Ini ribetnya,” ujar Andi.

Pertumbuhan  luas  panen  cabai  untuk  periode  2010-2014  atau  periode  5 tahun  terakhir cenderung  meningkat  dengan  rata-rata  pertumbuhan  4,23 persen. 

Selama  periode  tersebut  pertumbuhan  luas  panen  cabai  di  Luar  Jawa  lebih  tinggi  dibandingkan  di  Jawa.  Pertumbuhan  luas  panen  di  Luar  Jawa  sebesar  4,71 persen, sedangkan di Jawa sebesar 3,89 persen. (Yas/nrm)

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya