Polisi Tetapkan Tersangka Baru Percaloan Unhas, Siapa Dia?

Dalam kasus ini, tersangka RA membeberkan sejumlah nama yang terlibat.

oleh Eka Hakim diperbarui 12 Jan 2017, 15:31 WIB
Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan. (Foto: unhas.ac.id)

Liputan6.com, Makassar - Penyidik Reskrim Polrestabes Makassar akhirnya resmi menetapkan tersangka baru kasus dugaan percaloan penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan. Tersangka baru itu berinisial DA.

"Yah sudah ada tersangka baru kita tetapkan inisial DA," kata Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol M. Niam, di Mapolrestabes Makassar, Rabu (11/1/2017).

Ia mengatakan, dari hasil penyidikan serta hasil gelar perkara, ditemukan cukup bukti adanya dugaan perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan oleh DA. Diduga DA, yang merupakan PNS di bagian workshop Unhas itu menerima duit hasil percaloan penerimaan mahasiswa baru FK Unhas.

"Namun untuk pasalnya biar tepat kami sementara akan koordinasikan dengan pihak kejaksaan. Intinya kami yakin terapkan pasal tipikor karena adanya dugaan penyalahgunaan wewenang, "ujar Niam.

Dalam kasus ini, tersangka Rahmatia membeberkan sejumlah nama yang terlibat dalam jaringannya di hadapan penyidik Reskrim Polrestabes Makassar. Ia mengaku menjadi korban persekongkolan jaringan percaloan di Kampus Unhas yang dilakoni oleh tiga staf rektorat, yakni SS, DA, dan AL.

Awalnya, Rahmatia mengakui dirinya dihubungi oleh pegawai di bagian workshop berinisial AL. AL inilah, kata Rahmatia, yang menyuruh mencari calon mahasiswa baru yang ingin masuk FK Unhas Makassar.

"Dia (AL) menanyakan apakah ada anggota yang mau masuk fakultas kedokteran. Namun saat itu saya bilang tidak ada," tutur Rahmatia.

Tak berselang lama Rahmatia bertemu dengan LK yang merupakan alumnus Unhas dan menetap di RS Inau, Makassar. Dalam pertemuan itu, Rahmatia mengatakan, LK bercerita jika ada anggotanya yang ingin masuk ke FK Unhas. Rahmatia pun teringat langsung kepada AL yang pernah mencari calon mahasiswa baru.

"Saya lalu menghubungi AL, namun yang bersangkutan mengarahkan saya menemui RB, staf rektorat yang katanya bisa mengurus hal tersebut," ujar Rahmatia.

Rahmatia pun mencoba menghubungi RB lewat telepon. Komunikasi pun terjalin, RB meminta uang sebesar Rp 5 juta untuk membantu pengurusan.

"Tapi saya tak transferkan uang yang diminta RB tersebut karena ia menolak bertemu secara langsung dengan saya," ucap Rahmatia.

Alasan RB tak mau bertemu saat itu, menurut Rahmatia, lantaran RB berada di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Ia hendak ke Jakarta bersama rektor untuk mengurus nomor stambuk mahasiswa yang lulus.

Selanjutnya, masih menurut Rahmatia, RB pun meminta agar uang tersebut diserahkan ke AL saja. Rahmatia kemudian menyerahkannya dengan bukti kuitansi. Sore harinya, RB kembali meminta untuk ditransferkan uang sebesar Rp 20 juta.

Namun, Rahmatia menolak melakukan transfer uang. Sebab, nomor rekening yang dikirim RB tidak sesuai dengan namanya, tetapi atas nama SS.

Meski demikian, RB kembali meminta agar Rahmatia mencari calon mahasiswa baru lainnya. Ia pun meneruskan pesan milik RB itu kepada Nurjanna. Nurjanna pun kemudian merekrut AQ sebagai calon mahasiswa baru.

"Setelah itu, saya dan Nurjanna lalu bertemu dengan pria berinisial DA (orang suruhan RB) di PCC Makassar. Di situlah Nurjanna dan DA bercerita, namun saya tak tahu apa isi pembicaraannya tersebut," kata Rahmatia.

Setelah pertemuan itu. Rahmatia dan Nurjannah kembali menemui pria berinisial DA di sebuah kafe di bilangan Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar. Namun kali ini, Nurjannah juga turut membawa AQ yang merupakan calon mahasiswa baru yang ingin diurus tersebut.

Dalam pertemuan itu, Nurjannah kemudian menyerahkan uang Rp 180 juta kepada DA melalui Rahmatia. DA kemudian memberikan Rahmatia sebesar Rp 30 juta, sedangkan sisanya sebesar Rp 150 juta masuk kantong DA.

 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya