Arteri Purwakarta Lumpuh, 3 Kilometer Ditempuh Selama 11 Jam

Kendaraan besar kembali diizinkan masuk Cipularang, kondisi jalan arteri Purwakarta makin kacau.

oleh Abramena diperbarui 04 Jan 2017, 13:17 WIB
Macet di Jalur Arteri Purwakarta. (Liputan6.com/Abramena)

Liputan6.com, Purwakarta - Kemacetan parah kembali terjadi di jalan arteri di Purwakarta, Jawa Barat. Kemacetan terjadi sejak Selasa, 3 Januari malam. Kendaraan mengular memadati jalur utama menuju Bandung.

Dari pantauan Liputan6.com, hingga Rabu (4/1/2017) siang, kemacetan belum terurai. Bahkan, lalu lintas macet total dan seluruh kendaraan mengarah ke Bandung dari wilayah Sadang dan Cikampek pun tidak bergerak.

Kemacetan di wilayah Purwakarta tersebut terjadi di sepanjang jalur Cikopo-Bungursari dan Sadang menuju Purwakarta kota, sepanjang Jalan Veteran dan Ibrahim Singadila dan jalur kota hingga di jalan utama Purwakarta-Bandung.

Kemacetan terjadi seiring beroperasi kembali mobil besar sejak 3 Januari kemarin. Kendaraan jenis truk dan bus tersebut pun dialihkan ke jalan arteri dari Tol Cipularang. Seiring dengan perbaikan Jembatan Cisomang yang mengalami pergeseran dan retakan.

Berbagai upaya dilakukan pihak Kepolisian dari Resor Purwakarta, termasuk menempatkan petugas di setiap titik di sepanjang jalan tersebut.

Diperkirakan kemacetan parah di wilayah Purwakarta bakal terjadi hingga tiga bulan ke depan atau berakhirnya perbaikan Jembatan Cisomang.

Para pengemudi mengakui kemacetan yang terjadi membuat mereka frustasi karena untuk bisa menempuh jarak 3 kilometer saja mereka harus menghabiskan waktu hampir 11 jam.

Kendaraan besar kembali beroperasi, kemacetan parah terjadi kembali di Tol Cipularang karena pengalihan bus dan truk masuk arteri Purwakarta. (Liputan6.com/Abramena)

"Bayangkan sejak tadi malam saya terjebak di Jembatan Sadang, sekarang saya baru sampai di Jalan Veteran Pospol Kebon Jahe. Ini sudah sangat parah," kata salah seorang pengemudi truk, Abdul Komar, hari ini.

Dengan kondisi itu, selain harus terbuangnya waktu di perjalanan, juga membuat para pengendara harus mengeluarkan biaya yang besar. Selain bahan bakar, juga biaya lainnya seperti makan dan minum.

"Kalau kondisinya seperti ini kapan saya sampai di tujuan. Jelas biaya sudah sangat membengkak," ujar Komar.

Komar menuturkan akan semakin berisiko jika muatan yang dibawa sejenis sayuran atau buah-buahan. Selain akan menimbulkan kerugian terhadap perusahaan, para sopir juga akan mendapat teguran.

"Risiko macet ini juga harus diperhitungkan karena dampaknya juga pada kami sebagai sopir," tutur dia.

Para pengendara berharap agar pemerintah segera mengambil langkah dan mencari solusi untuk mengakhiri kemacetan yang terjadi. Mereka berharap jalanan segera kembali lancar.

"Kuncinya ada di pemerintah, ya harusnya ada solusi," pungkas komar.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya