Curhat Pilu Bocah Suriah, Tak Punya Rumah Akibat Perang

Bana Alabed dan ibunya, Fatemah, menjadi perhatian netizen setelah membuat live tweet peristiwa yang terjadi di Aleppo, Suriah.

oleh Yulia Lisnawati diperbarui 29 Nov 2016, 09:11 WIB

Liputan6.com, Suriah - Seorang bocah perempuan bernama Bana Alabed kini menjadi salah satu wajah korban perang saudara di Suriah.

Bocah berusia tujuh tahun ini dan ibunya, Fatemah, tiba-tiba menjadi perhatian publik, khususnya para pengguna jejaring sosial, setelah membuat live tweet peristiwa yang terjadi di Aleppo, Suriah, di mana daerah dikendalikan di bawah pengeboman dari pasukan pemerintah.

Dilansir Metro, Senin (28/11/2016), mereka telah menggunggah kondisi terkini rumah mereka sejak September lalu. Dan tak lupa menunjukkan video dari aksi pengeboman dan efek dari peristiwa tersebut.

Dalam cuitannya, ibu dan anak itu juga berharap bisa melanjutkan kehidupan normal di tengah kehancuran negaranya.

Diktator Bashar al-Assad memang telah melancarkan serangan besar untuk kembali mengambil kendali kota dan perang ini bahkan lebih berat daripada sebelumnya.

Pada Minggu (27/11/2016), Fatemah menggunggah sebuah cuitan yang mengatakan bahwa dia takut akan pesan terakhir warga Suriah.

"Pesan terakhir, di bawah pemboman berat sekarang, tidak bisa hidup lagi. Ketika kita mati, terus berbicara untuk 200.000 masih di dalam. BYE.- Fatemah," tulisnya.

Kisah Bana

Ada keheningan selama beberapa jam dalam akun @AlabedBana. Namun, tak lama kemudian cuitan dan posting-an foto kembali muncul.

Sebuah unggahan gambar memperlihatkan potret Bana dengan pakaian teddy bear-nya, ketakutan dan sedih setelah pengeboman yang terjadi di wilayahnya. Bana terlihat berbeda dengan anak-anak lainnya, tapi dia tampak sangat tangguh.

"Malam ini kita telah ada rumah, itu dibom & saya di reruntuhan. Saya melihat kematian dan saya hampir mati. - Bana #Aleppo," tulis Bana.

Sebelumnya, Bana juga mengunggah foto yang menunjukkan dia sedang membaca dan menulis di mejanya dengan impian bisa menjadi seorang guru.

Sayangnya, harapannya sedikit pupus karena tempatnya menimba ilmu telah hancur. Bahkan, siswa-siswanya telah banyak yang meninggal. 

Di hari yang sama, Fatemah juga menuliskan cuitan terakhirnya karena sudah tak ada lagi koneksi internet dan dia tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dia hanya meminta doa bagi warga Suriah.

"Tentara masuk, ini bisa menjadi hari terakhir kamu tulus berbicara. Tidak ada internet. Silakan silakan silakan berdoa untuk kita," kicau terakhir Fatemah.

Ibu dan putrinya itu sebelumnya menggunakan panel surya untuk bisa menghasilkan listrik di rumahnya. Mereka juga menanam sayuran di teras dan di atap untuk makan selama kota dikepung. Namun nahasnya, rumahnya kini sudah hancur menjadi puing-puing.

(ul)

 

**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini
**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum Liputan6

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya