20-11-1946: Demi RI, Ngurah Rai Perang Sampai Mati Lawan Belanda

Wilayah Marga yang penuh ladang jagung berubah menjadi medan tempur yang mencekam kala Ngurah Rai diserang Belanda.

oleh Rasheed Gunawan diperbarui 20 Nov 2016, 06:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta - I Gusti Ngurah Rai merupakan pahlawan nasional asal Bali yang dikenal karena rasa nasionalisme yang tinggi. Dia dan pasukannya, Ciung Wanara merelakan nyawanya untuk perang sampai mati demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) -- sebutan dahulu untuk RI (saat ini).

Saat itu, rakyat Indonesia baru setahun menikmati kemerdekaan. Namun Belanda kembali mengusik. Sementara, I Gusti Ngurah Rai selaku salah satu petinggi Tentara Republik Indonesia (TRI) kala itu, mendapat tugas dari pemerintah pusat di Yogyakarta untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) demi menghadang Belanda yang berniat menduduki Bali.

Sebelumnya, delegasi Indonesia dan Belanda baru saja melakukan Perundingan Linggarjati. Hasil perjanjian tersebut menyatakan bahwa Belanda mengakui secara de facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa dan Madura.

Bali tak termasuk wilayah yang diakui, sehingga I Gusti Ngurah Rai dan rakyat Bali bersiaga demi mempertahankan tanah lahirnya agar tetap bergabung NKRI.

Pasukan Belanda pada akhirnya datang ke Bali tanpa sepengetahuan I Gusti Ngurah Rai. Ketika itu, Komandan Resiman Nusa Tenggara tersebut sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengadakan konsultasi dengan Markas tertinggi TRI. Sekembalinya di Bali, Ngurah Rai diajak Belanda berunding untuk membentuk Negara Indonesia Timur.

Ajakan Belanda tersebut ditolak mentah-mentah oleh I Gusti Ngurah Rai. Putra terbaik bangsa ini memutuskan untuk menyerang pasukan Belanda di markas Nederlandsch Indie Civil Administratie (NICA) atau Pemerintahan Sipil Hindia Belanda, di Tabanan. Pasukan Belanda kalah dan berhasil dipukul mundur oleh Ciung Wanara I Gusti Ngurah Rai.

Pihak Belanda kemudian mengerahkan pasukannya untuk melakukan serangan balasan ke I Gusti Ngurah Rai. Sementara itu, pasukan I Gusti Ngurah Rai juga mempersiapkan diri untuk membersihkan pasukan Belanda dari Bali.

Ciung Wanara longmarch, berjalan beramai-ramai ke Gunung Agung, Bali untuk menghimpun kekuatan. Namun tiba-tiba pasukan Belanda mencegat dan menyerang di Desa Marga, Tabanan, Bali.

Tak terhindarkan, pertempuran sengit terjadi. Wilayah Marga yang penuh ladang jagung berubah menjadi medan tempur yang mencekam. Warga sekitar melarikan diri dan mengevakuasi barang perabotan.

Pasukan Ngurah Rai yang belum siap, melakukan serangan perlahan tapi pasti. Tentara Belanda sempat terdesak tapi pihak asing itu kembali datang dengan pasukan baru dengan senjata tempur.

Tentara Belanda melepaskan tembakan dan menjatuhkan bom dari pesawat. Ciung Wanara menjadi terdesak. Dalam kondisi darurat, Ngurah Rai memutuskan untuk melakukan puputan, perang sampai mati. Dia memerintahkan pasukannya untuk terus melawan sampai mati.

Akhirnya puncak pertempuran sengit terjadi. Ngurah Rai dan pasukannya tewas di tempat. Hamparan sawah dan ladang jagung yang subur itu kini menjadi ladang pembantaian penuh asap dan darah. Perang ini kemudian dicatat dalam sejarah dengan nama Puputan Margarana.

Sejarah lain mencatat pada 20 November 1992, Xanana Gusmao ditangkap oleh tentara Indonesia setelah bergerilya di Timor Timur. Kemudian pada 20 November 2006, Presiden Amerika Serikat George W. Bush melangsungkan kunjungan kenegaraan ke Istana Bogor dan bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kunjungan singkat ini berlangsung selama enam jam.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya