3 Hal Ini Tentukan Keberhasilan Startup Memperoleh Pendanaan

Untuk mendapatkan pendanaan, pelaku startup pun harus memperhatikan beberapa hal.

oleh Agustin Setyo Wardani diperbarui 20 Okt 2016, 18:11 WIB
Andreas Surya Vice President Portofolio & Investment Kejora (kiri) bersama dengan founder startup yang didanai Kejora Ventura. (Liputan6.com/ Agustin S. Wardani)

Liputan6.com, Jakata - Mendapatkan pendanaan tentunya menjadi impian banyak startup baru. Sebab tanpa investasi dari pemilik modal, kecil kemungkinan startup bakal berkembang.

Namun, untuk mendapatkan pendanaan bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, karena itu pelaku startup pun harus memperhatikan beberapa hal.

"Startup pasti memiliki sebuah produk yang ingin dikembangkan. Biasanya mereka mengirim portofolio ke Kejora, mempresentasikannya, dan Kejora akan mengevaluasi. Kalau oke, akan diskusikan lebih lanjut," tutur Vice President Portofolio & Investment Kejora Andreas Surya ketika ditemui di Kejora Headquarter, Slipi, Jakarta, Kamis (20/10/2016).

Andreas mengungkapkan, ada tiga hal yang dilihat oleh Kejora untuk menyeleksi startup yang bakal didanai. Hal pertama adalah tim pendiri startup tersebut. Tim pendiri, kata Andreas, bisa terdiri dari satu atau beberapa orang.

"Kita melihat, apakah capable atau tidak. Misalnya startup di bidang logistik, kuat atau tidak pengetahuan yang dimilikinya," kata Andreas.

Andreas mengatakan, pendiri sebuah startup mesti memiliki founder DNA, yakni harus ada keseimbangan antara persistensi dengan flexibility-nya. Andreas menuturkan, IQ atau kecerdasan emosional tak terkait dengan kesuksesan sebuah startup. Sehingga, tingginya skor IQ bukanlah faktor yang dipertimbangkan untuk mendapatkan pendanaan.

Hal kedua yang dilihat Kejora dalam menyeleksi adalah pasar yang belum banyak disentuh. "Startup harus menyasar market yang besar dan berkembang, selain itu kompetisi yang belum terlalu banyak," katanya.

Ia tak mempermasalahkan jika startup yang ingin mendapat pendanaan memiliki saingan. Asalkan, saingannya tak banyak. Andreas justru akan mempermasalahkan jika startup yang diseleksi tak memiliki saingan.

"Kalau startup itu sendirian, bolehlah curiga, artinya nggak ada pasarnya," jelas Andreas. Hal terakhir yang dilihat oleh Kejora adalah model bisnis, apakah terbukti atau tidak. "Jadi proven atau tidak, model bisnisnya pernah dicoba di negara lain atau tidak," katanya.

Andreas juga mengatakan, untuk Indonesia biasanya yang lihat adalah praktis atau tidaknya suatu model bisnis. "Indonesia biasanya cari yang praktis saja, sebab perlu teknologi tepat guna dan menyelesaikan masalah di Indonesia. Misalnya seperti startup cekaja.com model bisnisnya sudah ada di Jerman, Amerika, dan lain-lain. Dan itu cocok di Indonesia, sebab timing-nya pas yakni saat kelas menengah mulai naik,"

Andreas menyarankan, model bisnis seperti eCommerce sangat tak disarankan bagi mereka yang ingin membuat startup. Alasannya, persaingan startup eCommerce di Indonesia sudah sangat ketat.

Meski begitu, ia menyebut area di seputar eCommerce menarik untuk dijadikan bisnis. "Misalnya di bidang payment, logistik, warehouse, packing, inventory, dan lain-lain masih banyak yang tradisional," ujar Andreas.

(Tin/Ysl)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya