Top 3: Berantas Pungli, Kapolda Sumsel Dipalak Anggota Sendiri

Belum lama ini, Kapolda Sumsel menyamar sebagai warga sipil untuk menangkap oknum polisi yang melakukan pungli.

oleh Nefri IngePanji Prayitno diperbarui 19 Okt 2016, 21:21 WIB
Belum lama ini, Kapolda Sumsel menyamar sebagai warga sipil untuk menangkap oknum polisi yang melakukan pungli.

Liputan6.com, Palembang - Upaya memberantas praktik pungutan liar (pungli) di Tanah Air, terus digalakkan pemerintah. Tak terkecuali pungli yang melibatkan anggota kepolisian.

Belum lama ini, Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) menyamar sebagai warga sipil untuk menangkap polisi yang terlibat pungli.

Umpan pun berhasil dimakan seorang polisi lalu lintas yang sedang berjaga. Karena melanggar lalu lintas, Kapolda Sumsel ditindak dan dibawa ke pos polisi.

Berita Kapolda Sumsel yang diperas polantas, paling banyak menyita perhatian pembaca Liputan6.com, terutama di kanal Regional hingga malam ini, Rabu (19/10/2016).

Kabar lainnya yang juga tak kalah diburu tentang sejarah tarling Cirebon yang tercipta sejak zaman Belanda.

Kala itu seorang tentara Belanda meminta kepada seniman ahli gamelan Sugro untuk memperbaiki gitar yang rusak. 

Lalu ada pula berita tentang pengikut Dimas Kanjeng. Menurut para dokter jiwa mereka mengalami krisis kejiwaan, sehingga dengan mudah dapat dibodohi.

Berikut berita populer selengkapnya yang terangkum dalam Top 3 Regional:

1. Lucu, Kapolda Sumsel Diperas Polisi Lalu Lintas

(Ilustrasi)

Beragam cara ditempuh Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Djoko Prastowo, untuk memberantas praktik pungutan liar (pungli) di tubuh kepolisian Sumsel. Salah satunya dengan menyamar menjadi warga sipil.

Meski Kapolda Sumsel menolak memberikan uang damai dan meminta surat tilang saja, polisi tersebut masih memaksa meminta uang damai.

Setelah memberikan uang damai, Kapolda Sumsel baru membuka identitasnya. 

Selengkapnya...

2. Tarling Cirebon Bermula Saat Ahli Gamelan Perbaiki Gitar Belanda

Mama Jana, seniman tarling generasi kedua yg menciptakan melodi kiser. (Liputan6.com/Panji Prayitno)

Seniman Cirebon, Dino Syahrudin, menuturkan tarling merupakan melodi jiwa. Sebab, selain dari alunan musik, lirik lagu yang dinyanyikan seniman tarling klasik menggambarkan kehidupan masyarakat Cirebon sehari-hari.

Dino juga menceritakan, awal mula tercipta musik tarling sekitar tahun 1931. Kala itu seorang tentara Belanda meminta kepada seniman ahli gamelan Sugro untuk memperbaiki gitar yang rusak. Sugro pun menerima permintaan tentara Belanda untuk memperbaiki gitar yang rusak.

"Setelah diulik ternyata musik gamelan beserta laras yang menjadi khas Cirebon bisa masuk ke dalam gitar. Ditambah dengan suling maka jadilah tarling," tutur dia.

Sugro bersama rekan-rekannya pun mulai menunjukkan kreasinya dalam bermain tarling klasik.

"Sinden menjadi bagian penting dalam menyanyikan musik tarling klasik yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Cirebon. Suaranya yang syahdu dan alunan musiknya yang khas membuat tarling sebagai melodi jiwa dari masyarakat Cirebon dan Indramayu," ujar dia. 

Selengkapnya...

3. Dokter Jiwa: Pengikut Dimas Kanjeng Orang Aneh

Maraknya kabar menggandakan uang ala Kanjeng Dimas, nampaknya menjadi pertanyaan besar di benak masyarakat.

Kalangan dokter jiwa menyebutkan seluruh pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pelaku dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang, mengalami stress crisis secara kejiwaan.

Penilaian itu merujuk dari latar belakang pendidikan, agama, dan kelompok yang pernah diikuti oleh sebagian pengikut Dimas Kanjeng cukup mumpuni.

"Kenapa sampai banyak orang yang dibodohi, ditipu, karena ya banyak yang tidak rasional dan tidak logis. Pikirannya mengalami distorsi," ujar Teddy Hidayat kepada Liputan6.com di Bandung, Senin, 17 Oktober 2016.

Adanya kelompok orang yang masih berpikiran tidak realistis dan logis terhadap kenyataan kehidupan, kata dia, disebabkan dari sejak dini tidak pernah diberikan pendidikan kesehatan kejiwaan.

Selengkapnya...

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya