Muhammadiyah: Ini 3 Ciri Pengikut Kelompok Ekstremis

Sekjen PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pengikut kelompok ekstremis sebenarnya sangat mungkin dideteksi.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 04 Okt 2016, 15:04 WIB
Ilustrasi Teroris (Liputan6.com/M.Iqbal)

Liputan6.com, Jakarta - Kekerasan serta ekstremisme seakan menjadi masalah abadi yang tak kunjung bisa dipecahkan. Oleh sebab itu, Indonesia sebagai negara muslim terbesar mencoba mengurai isu tersebut dengan menjadi tuan rumah World Peace Forum (WPF).

Menurut Sektretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, sebenarnya pengikut kelompok ekstrem sangat mampu terdeteksi. Pasalnya, ada tiga ciri yang melekat pada mereka.

"Ciri pertama adalah mereka berada dalam satu posisi yang menjadikan mereka berbeda dengan yang lain, menjadi eksklusif," papar Mu'ti, di kantor CDCC di Jakarta, Selasa (4/10/2016).

Sifat ini sangat berbahaya. Karena menganggap hanya pendapatnya saja yang benar.

Selain eksklusif, kelompok ekstrem pasti kerap menggunakan aksi kekerasan. Hal ini digunakan agar tujuan mereka tercapai.

"Ciri yang kedua terkait kekerasan, mereka memakai kekerasan fisik maupun verbal," paparnya.

"Yang ketiga kelompok ini memiliki jaringan yang tertutup di dalam dan luar negeri. Kelompok ini akan diketahui setelah mereka melakukan aksi," paparnya.

Mu'ti mengatakan, ada sejumlah cara mencegah meluasnya jaringan ekstremisme. Salah satunya memperkuat fondasi pendidikan.

"Kita harus membangun pemerintahan yang terbuka dan inklusif melalui pendidikan. Seperti pendidikan lintas agama," jelasnya.

Selain itu, ia menekankan, penataan kota adalah salah satu kunci pencegahan meluasnya ekstremisme. Pasalnya, penataan kota yang semrawut seperti yang terjadi saat ini, menjadi salah satu pangkal masalah merebaknya paham itu.

"Negara harus bangun permukiman yang pluralis. Contohnya Singapura, di negara tersebut satu kelompok agama tidak ditempatkan di satu tempat atau daerah," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya