Warga London dan Penulis Harry Potter Kecam Larangan Burkini

Para wanita di Inggris melakukan aksi demo di depan kantor Kedubes Prancis di Inggris, menanggapi larangan Burkini di Prancis.

oleh Nurul Basmalah diperbarui 26 Agu 2016, 16:19 WIB
Aksi protes sejumlah wanita dengan mengadakan pesta pantai di luar kedutaan Prancis di London, Inggris, Kamis (25/8). Mereka memprotes larangan burkini (pakaian renang muslimah) yang diberlakukan di beberapa kota pesisir di Prancis. (REUTERS/Neil Hall)

Liputan6.com, London - Para aktivis membuat 'pantai' darurat di depan kantor kedutaan besar Prancis di London, sebagai bentuk aksi protes menentang larangan burkini -- pakaian renang muslimah -- di Prancis.

Para demonstran berkumpul di depan bangunan tersebut dengan mengenakan bikini, burka, bahkan pakaian pendeta, sambil membawa papan bertuliskan 'pakai apa yang kamu inginkan'.

Foto-foto aksi demo itu pun tersebar luas di internet dan ramai diperbincangkan netizen.

"Aku pikir ini konyol. Tidak ada seorang pun, terlepas dari kepercayaan dan ras mereka, yang dapat memberitahu orang lain apa yang harus dan tidak harus mereka pakai. Sangat penting untuk menunjukkan solidaritas, terutama karena adanya penyebaran Islamofobia, seperti di Prancis," tulis seorang penggerak aksi protes larangan burkini, Fariah Syed.

Pada aksi itu, Syed mengenakan burkini berwarna hitam, lengkap dengan turban hitam dan selendang merah kekuningan.

"Aku menggunakan pakaian ini dan aku bisa katakan bahwa bukan baju yang nyaman untuk dipakai. Aku kepanasan. Jadi aku bisa katakan, para perempuan muslim yang mengenakan burkini bukan untuk bersenang-senang, hal itu karena kepercayaan mereka menyarankannya," ujar Syed.

Seorang pengunjuk rasa memegang kertas berisi protes sambil bersantai di atas tumpukan pasir di luar kedutaan Prancis di London, Inggris, Kamis (25/8). Mereka memprotes larangan burkini di beberapa kota pesisir di Prancis. (AFP PHOTO/JUSTIN Tallis)

Syed juga mengatakan bahwa negara toleransi harusnya menerima dan memahami hal tersebut.

Sementara itu, seorang peserta demo lainnya, Natalie -- ikut demo dengan mengenakan bikini -- mengatakan bahwa perempuan seharusnya dapat mengenakan apapun yang mereka inginkan.

"Perempuan dapat mengenakan apapun yang mereka mau, baik itu bikini ataupun burkini. Tidak ada bedanya," komentar Natalie.

Sejumlah wanita mengenakan pakaian renang sambil memegang papan protes saat menggelar aksi di depan kedutaan Prancis di London, Inggris, Kamis (25/8). Mereka memprotes larangan burkini yang diberlakukan di kota-kota pesisir di Prancis. (REUTERS/Neil Hall)

Aksi protes di depan gedung kedutaan Prancis itu juga dihadiri oleh seorang pendeta dari Gereja Inggris, Jenny Dawkins.

Dawkins mengikuti demo tersebut dengan mengenakan pakaian resmi pendeta. "Diperlakukan dengan cara seperti itu tentunya sangat tidak dapat diterima dan sangat menakutkan," kata suster itu.

Seorang wanita mengenakan burkini ketika mengadakan demonstrasi pesta pantai di luar kedutaan Prancis di London, Inggris, Kamis (25/8). Mereka memprotes larangan burkini yang diberlakukan di beberapa kota pesisir di Prancis. (AFP PHOTO/JUSTIN Tallis)

Pendeta itu mengatakan hatinya tergerak untuk mengikuti aksi protes tersebut, setelah melihat foto polisi Prancis memaksa seorang wanita muslim untuk melepaskan sebagian pakaian burkininya.

"Pastinya mengerikan. Bayangkan kau dikelilingi polisi bersenjata, dan mereka memintamu untuk melepaskan pakaian," ujar Dawkins mengomentari foto yang tersebar luas pada Rabu 24 Agustus 2016.

Sejauh ini, negara yang dikenal dengan atraksi Menara Eiffel itu telah melarang pemakaian burkini di 15 kota. Menurut laporan pihak berwenang, dikutip dari CNN, Jumat (26/8/2016), larangan tersebut merupakan respons terhadap perkembangan terorisme yang dalam beberapa waktu terakhir telah menelan banyak korban di Prancis.

J.K Rowling dan Wali Kota London Kritik Prancis

Foto polisi menjatuhkan denda pada perempuan yang mengenakan burkini memicu kontroversi di Prancis (CNN)

Di tempat terpisah, penulis terkenal J.K Rowling, mengkritik komentar mantan presiden Prancis, Nicolas Sarkozy, yang mengatakan mengenakan burkini merupakan sebuah 'provokasi'.

Penulis novel 'Harry Potter' tersebut mengomentari pidato Sarkozy lewat Twitter-nya.

"Jadi Sarkozy mengatakan burkini 'memancing'. Tak peduli perempuan menutupi atau tidak menutupi tubuhnya, tampaknya kami selalu, selalu 'memintanya.'" tulis Rowling dalam akun Twitter-nya.

Sementara itu, Wali Kota London, Sadiq Khan, juga melakukan debat sengit mengenai penggunaan baju renang yang menutupi seluruh bagian tubuh kecuali muka, kaki, dan tangan itu, melawan seorang peserta dari Paris, Anne Hidalgo.

"Aku bangga menjadi seorang feminis. Aku tidak berpikir seseorang boleh mengatakan kepada seorang perempuan apa yang harus dan tidak harus mereka pakai," kata Sadiq dalam debat itu.

Di tempat yang berbeda, Wali Kota Antwerp, Belgia, Bart De Wever, mengibaratkan burkini seperti 'tenda' dan selera mode, "Seperti mengenakan kaos kaki putih dengan sendal."

"Aku membaca pendapat 'gila' para sayap kiri. Jika aku mengingatnya dengan benar, kita justru seharusnya melindungi pengguna burkini sebagai salah satu perkembangan emansipasi wanita semenjak aksi pembakaran bra di Dolle Mina tahun 1970-an," kata De Wever dalam sebuah wawancara.

"Dulu, wanita muslim hanya bisa duduk di dalam tenda di pantai. Kini mereka dapat mengenakan 'tenda' tersebut dan masuk ke dalam laut. Kita melakukan perkembangan," lanjut sang wali kota.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya