Densus 88 Tangkap 6 Terduga Teroris Kitabah Gombong Rebus

Kelompok teroris Kitabah Gombong Rebus ini diduga masih terafiliasi dengan Bahrun Naim yang disebut-sebut terlibat bom Thamrin, Jakarta.

oleh Moch Harun Syah diperbarui 05 Agu 2016, 17:14 WIB
Ilustrasi Teroris.

Liputan6.com, Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap 6 terduga teroris di Batam, Kepulauan Riau. Keenam orang itu menamakan jaringannya sebagai Kitabah Gombong Rebus (KGR). Keenam terduga teroris jaringan KGR ditangkap di lokasi berbeda.

Mereka GRD, TS, ES, TZ, HGY dan MTS. Keenamnya ditangkap pukul 07.21 WIB, Jumat (5/8/2016).

"Pertama GRD, kedua TS, ketiga ES, keempat TZ, kelima HGY ditangkap di Jalan Batu Aji, dan terakhir MTS juga ditangkap di Batu Aji," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Polisi Agus Rianto di kantornya, Jakarta.

Menurut dia, Densus 88 menduga GRD merupakan pimpinan KGR. GRD juga diduga kuat pernah menampung 2 anggota kelompok jaringan teroris yang berasal dari Uighur, atas nama D dan A.

D telah dideportasi, sementara A masih dalam proses deportasi karena baru ditangkap pada akhir 2015 di Bekasi.

"GRD ini merupakan fasilitator keberangkatan mereka atau WNI yang ingin bergabung ke kelompok teroris yang ada di Suriah melalui Turki. Ini masih akan terus kami dalami," imbuh Agus.

Kemudian, sambung dia, GRD juga diduga kuat merupakan penerima sekaligus penyalur dana untuk kegiatan radikalisme di Indonesia yang berasal dari Bahrun Naim.

Bahrun Naim merupakan teroris yang diduga terkait bom Thamrin, Jakarta dan sekarang berada di Suriah.

GRD pernah bersama-sama dengan Bahrun Naim (BN) untuk merencanakan teror di Singapura.

"Masih dilakukan pendalaman. GRD bersama BN pernah berencana melakukan serangan teror ke Singapura. Mereka akan menyerang dengan menggunakan roket dari Batam ke Singapura," ujar Agus.

Dia mengatakan, dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan intensif, GRD juga merencanakan Amaliyah atas perintah Bahrun Naim untuk mengembangkan jaringan teroris di Indonesia dan merencanakan bom bunuh diri.

"Sasaran tempat keramaian kemudian objek vital, termasuk di dalamnya kantor kepolisian dan mengembangkan sel-sel teroris yang mereka inginkan, selain di Indonesia dan negara di Asia Tenggara," tutup Agus.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya