Kisah 'Baywatch' dari Banten Bertaruh Nyawa

Relawan 'baywatch' Balawista juga bersedih karena tak bisa menyelamatkan korban atas nama Thobi asal Bogor dan Haerudin.

oleh Yandhi Deslatama diperbarui 14 Jul 2016, 07:00 WIB
Serial Baywatch. (parade.com)

Liputan6.com, Lebak - Aksi heroik para penjaga pantai menyelamatkan wisatawan dari ancaman ombak tak cuma ada dalam serial lawas Baywatch saja. Di kehidupan nyata pun ada.

Seperti cerita para penjaga pantai di Banten. Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) namanya. Dengan segala keterbatasan peralatan keselamatan, mereka harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan hidup para pengunjung pantai yang terseret ombak.

"Di (Pantai) Sawarna, yang tingkat kecelakaannya tinggi, Balawista hanya memiliki tiga papan seluncur. Padahal pada hari kedua Lebaran Idul Fitri saja pengunjungnya mencapai 8.000," kata humas relawan Balawista Banten Lulu Jamaludin di Lebak, Banten, Rabu (13/7/2016).

"Rubber boat (perahu karet) sudah lama rusak. Di Pantai Carita, tandu saja tidak ada. Alat keselamatan untuk masyarakat pun tidak ada bantuan dari Pemprov Banten. Kita sangat kekurangan alat," sambung dia.

Lulu mengatakan, sepanjang Januari hingga Juli 2016, khususnya saat libur panjang, ribuan wisatawan memadati Pantai Anyer, Carita, hingga Sawarna dan dijaga oleh 150 relawan Balawista.

27 Nyawa Melayang

Sepanjang masa itu tercatat sebanyak 27 nyawa melayang. Namun begitu, tak terhitung nyawa wisatawan yang bisa diselamatkan oleh para penjaga pantai Banten ini dengan segala keterbatasannya.

"Hingga bulan ini, sudah 27 wisatawan yang meninggal di Pantai Sawarna. Itu baru di Pantai Sawarna, belum di Cinangka Kabupaten Serang, dan Kabupaten Pandeglang," tutur dia.

Terakhir, relawan Balawista juga bersedih karena tak bisa menyelamatkan korban atas nama Thobi asal Bogor dan Haerudin yang hanyut terseret ganasnya ombak Pantai Sawarna pada 9 Juli 2016 lalu.

Lulu mengatakan, idealnya satu posko pengamanan pantai minimal memiliki jetski, rubber boat, rescue board, rescue tube, long board, spinal board, surfboard, fin mask, scuba dive, motor patroli, tandu, obat-obatan, dan ambulans.

Peralatan seadanya yang dimiliki Balawista sekarang hasil bantuan dari pemerintah Australia, sebuah perusahaan asal Kalimantan, dan aparatur desa setempat.

"Entah Pemprov Banten kapan mau ngasih bantuan. Padahal sudah lama kita mengajukan. Karena selama ini, di Pantai Carita jika ada korban kecelakaan laut, kita nyetop angkot atau losbak untuk angkut korban ke puskesmas," tutur dia.

Dirinya pun meminta kepada para pengunjung untuk sama-sama menjaga keselamatan dan mematuhi peraturan yang sudah terpampang agar meminimalisir korban hanyut di pantai.

"Pengunjung juga diharapkan untuk menaati aturan lifeguard yang ada di pantai tempat dia wisata," ucap Lulu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya