Hasto: PDIP Hormati Kritik SBY, Tapi Kedepankan Kerja Kerakyatan

Pernyataan Sekjen PDIP ini sebagai jawaban terhadap kritik SBY terhadap pemerintahan Jokowi.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 06 Apr 2016, 04:39 WIB
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat membuka acara Pelatihan Manajer Tim Kampanye Pilkada Serentak di kantor PDIP, Jakarta, Selasa (5/4). PDIP gelar pelatihan manajer tim kampanye untuk menghadapai Pilkada serentak mendatang. (Liputan6.com/Yoppy Renato)

Liputan6.com, Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjawab kritik yang kerap dilontarkan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY terhadap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla yang dianggapnya kerap gaduh sesama menterinya. Apalagi, Jokowi adalah kader PDIP dan pemerintahan saat ini adalah representasi partai banteng moncong putih tersebut.

"Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin merespons berbagai kritik yang diberikan terhadap pemerintahan Presiden Jokowi, terkait dengan anggapan sebagian orang, bahwa Kabinet Kerja ini dianggap gaduh, dan tidak mampu berkoordinasi. Bahkan mantan Presiden SBY menyindir hal itu beberapa kali," ucap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Jakarta, Selasa (5/4/2016).

Hasto berujar, pihaknya menghargai kritikan yang kerap disampaikan SBY tersebut. Namun, ia mengingatkan, pemerintah saat ini lebih mengedepankan keterbukaan terhadap rakyat atas apa yang tengah dikerjakan.

"Kita hormati kritik Bapak SBY, namun perlu kami sampaikan bahwa cara berpolitik PDIP adalah adalah berpolitik terbuka. Kami lebih mengedepankan kerja kerakyatan daripada pencitraan," papar Hasto.

Menurut Hasto, berpolitik bagi PDIP adalah tidaklah sembunyi-sembunyi. Sebab, sebagai partai berbasis massa, suara-suara rakyat yang tersembunyi sekalipun harus didengar.

"Sebab halaman depan dan halaman belakang kami adalah sama wajah, dan apa adanya. Itulah yang diajarkan Ibu Megawati saudara-saudara," sambung dia.

Dengan berpolitik terbuka, lanjut dia, masyarakat bisa melihat panggung pemerintahan Presiden Jokowi dan masyarakat bisa menilai apa yang dilakukan oleh Presiden Jokowi.

"Berpolitik ala Presiden Jokowi adalah berpolitik dengan panggung terbuka, kita dukung politik panggung terbuka ini. Sebab rakyat adalah sumber gagasan," ujar Hasto.

Hasto menambahkan, ketika ada perbedaan pendapat di antara menteri, di situlah ada argumen dan rakyat melihat serta terlibat dalam perdebatan tersebut yang akhirnya rakyat menilai bagaimana perdebatan merupakan dialektika dalam wajah politik yang partisipatoris.

Politik Terbuka Lebih Baik

"Politik panggung terbuka ini akan tetap jauh lebih baik, daripada politik panggung tertutup, tampaknya santun, namun penuh dengan berbagai skenario korupsi dan manipulasi demokrasi melalui pemilu," kata Hasto.

Bahkan, Hasto balik menyindir SBY yang meminta Partai Demokrat tidak jadi bahan bully oleh masyarakat. Ia pun membandingkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang tetap pasang badan menghadapi segala ujian yang dihadapi PDIP dan tidak anti terhadap kritik.

"PDI Perjuangan adalah partai yang ikut melahirkan demokrasi dan mengantarkan demokrasi ke tengah rakyat. Karena itulah PDIP tidak pernah anti terhadap kritik.

Pemimpin kita (Megawati) pun selalu memegang teguh prinsip demokrasi ini. Beliau selalu bersikap tegar, meskipun badai pengkhianatan menerjang. Sementara di luar sana, ada pemimpin yang memohon agar partainya dijauhkan dari serangan dan kritik," Hasto Kristiyanto menandaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya