Demo Buruh di China Lebih Banyak Dibanding Indonesia

Pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu ini terus merosot sehingga memicu peningkatan jumlah demo buruh di tahun lalu.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 02 Mar 2016, 12:31 WIB
China | Foto: The China Times

Liputan6.com, Jakarta Ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri menyoroti perekonomian dunia yang sedang tertekan, termasuk China. Pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu ini terus merosot sehingga memicu peningkatan jumlah demo buruh di tahun lalu.

Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi China sebesar 6,9 persen merupakan yang terendah dalam 25 tahun terakhir. Sedangkan ekonomi Amerika Serikat (AS) walaupun sedikit membaik, sulit menyentuh 3 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

"Ekonomi dunia sedang tertekan. Ekonomi AS selalu di bawah 3 persen sehingga tidak bisa lagi jadi motor penggerak pertumbuhan dunia. Juga situasi China yang mengalami pertumbuhan ekonomi terendah dalam 25 tahun terakhir," ujar Faisal dalam Diskusi Strategi Investasi di Tahun Monyet oleh Asanusa Asset Management di Jakarta, Rabu (2/3/2016).

 

Lebih jauh katanya, kondisi dan situasi perekonomian maupun politik di China mengakibatkan maraknya demo buruh di Negara tersebut. Bahkan Faisal mengklaim, jumlah demo buruh di China lebih banyak dibanding Indonesia.

"Demo buruh di China lebih banyak dibanding Indonesia. Tercatat 2.354 kali demo buruh di China pada tahun lalu. Jadi memang perlu waktu buat China melakukan proses transisi. Beruntungnya, Presiden China Xi Jinping punya pemikiran modern sekali, tapi tetap saja ekonomi China tidak akan mampu tumbuh tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya," terang Faisal.

Transisi yang dimaksud, lanjutnya, China mendorong sumber pertumbuhan ekonomi China yang berasal dari konsumsi masyarakat, bukan lagi investasi. China pun sedang berupaya menggenjot sektor jasa, mengekor Indonesia yang sudah bertumbuh 50 persen. Sedangkan China masih di bawah 5 persen.

"China terlalu banyak investasi daripada belanja, sedangkan Indonesia kebalikannya. Jadi waktu ekonomi dunia anjlok, China sedang berusaha meningkatkan belanja masyarakat supaya mereka bisa menyerap produksinya dan tidak bergantung lagi dari luar," jelas Faisal.

Pemerintah dan Bank Sentral di China, tambahnya, sedang memasuki masa transisi karena mata uangnya Yuan atau Renminbi sudah menjadi mata uang internasional. Dengan begitu, mekanismenya di lepas ke pasaran.

"Mata uang Yuan merosot terus karena diserahkan ke mekanisme pasar. China menggelontorkan cadangan devisa sampai US$ 1 triliun dalam setahun kemarin supaya menahan Yuan tidak terlalu anjlok," pungkas Faisal.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya