Liput Perang Bersaudara, 3 Jurnalis Aljazeera Diculik di Yaman

Ketiga wartawan itu terlihat terakhir kali pada Senin 18 Januari lalu.

oleh Arie Mega Prastiwi diperbarui 22 Jan 2016, 10:17 WIB
Pasukan Pro Pemerintah Yaman Ambil Alih Pangkalan Militer al-Anad (Reuters)

Liputan6.com, Taiz - Media internasional Aljazeera yang berbasis di Doha melaporkan bahwa 3 wartawanannya diculik di Taiz, Yaman. Pihaknya kini meminta ketiganya segera dibebaskan.

Koresponden Aljazeera untuk siaran bahasa Arab, Hamid al-Bokari serta kru Abdulaziz al-Sabri dan Moneer al-Sabai, terlihat terakhir kali pada Senin 18 Januari Taiz, yang berlokasi di barat daya Yaman yang kini tengah bergejolak.

"Mereka sedang meliput kota yang dikepung akibat perang bersaudara antara pemerintah dan pendukung Houthi. Mereka itu sedang melaporkan bagaimana peperangan merugikan warga. Kolega kami hanya melakukan tugas mereka dan melaporkan kepada dunia apa yang telah terjadi di Yaman," kata Mostefa Souag, direktur Aljazeera Media Netwok seperti dilansir dari The Guardian, Kamis 21 Januari 2016.

"Aljazeera menuntut para penculik untuk bertanggung jawab atas keamanan mereka," tambah Souag lagi.

Yaman kini tengah bergejolak akibat perang bersaudara antara Presiden Yaman Mansour Hadi -- yang didukung koalisi Arab Saudi dengan mantan presiden sebelumnya Hussein Badreddin al-Houthi -- yang didukung oleh Iran. Perang telah berlangsung selama 9 bulan, dilaporkan 6.000 orang tewas.

Kanal berita yang didanai keluarga miluner Qatar ini sukses meliput Arab Spring pada 2011 sehingga pemirsa Timur Tengah melonjak mencapai jutaan orang. Namun kepopulerannya membuat beberapa wartawannya ditahan dan tewas saat meliput kawasan itu.

Pada Desember lalu,  kameramen Aljazeera akhirnya menghembuskan nafas setelah berhari-hari koma akibat luka tembak saat meliput di Homs, Suriah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya