Amien Rais Temui Ketum PAN di DPR, Bahas Reshuffle Kabinet?

Amien Rais mengakui belakangan ini masyarakat Indonesia disuguhi kegaduhan politik, terlebih dibumbui isu reshuffle kabinet.

oleh Taufiqurrohman diperbarui 06 Jan 2016, 04:37 WIB
Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais menegaskan bahwa keberadaan Pansus Angket Freeport DPR akan bisa membongkar kerugian negara yang selama ini disebabkan PT Freeport, Jakarta, Senin (14/12/2015). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menggelar pertemuan dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan beberapa elite partai tersebut. Saat disinggung apakah pertemuan tersebut membahas nama-nama calon menteri yang akan disodorkan kepada Presiden Joko Widodo dalam isu reshuffle kabinet jilid II, Amien menepisnya.

"Saya dengan teman-teman menemui ketua umum, saya Ketua Dewan Kehormatan sudah ada 9 nama (anggota), cuma minta diresmikan supaya nanti DPP jelas (keanggotaannya)," ucap Amien di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (5/1/2016).

Mantan Ketua Umum PAN ini menyatakan, dalam pertemuan yang digelar di ruang kerja Ketua MPR itu, pihaknya sama sekali tidak membahas jatah menteri pasca-PAN bergabung dengan pemerintah.

"Saya Ketua Dewan Kehormatan supaya segera diresmikan. Supaya saya ngantor sudah resmi. Tidak ada satu patah kata pun soal reshuffle," ujar mantan Ketua MPR tersebut.

Libatkan Tokoh Bangsa

Amien Rais mengakui belakangan ini masyarakat Indonesia disuguhi kegaduhan politik, terlebih dibumbui isu reshuffle kabinet atau perombakan kabinet yang kian santer.

Ia pun menyarankan, dalam setiap kegaduhan politik, sebaiknya Jokowi-JK mengundang para tokoh bangsa dari semua elemen untuk duduk bersama membahas isu-isu strategis untuk tetap menjalankan amanah rakyat.

"Jokowi dan JK sebagai pimpinan nasional itu duduk kemudian mengundang semua elemen yang ada di bangsa ini. Panggillah pimpinan TNI, Polri, ketua-ketua lembaga tinggi, pimpinan partai besar yang lolos kemarin. Kemudian undang tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh intelektual yang termuka," ujar mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Salah satu tokoh reformasi 1998 ini menilai, sekalipun reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden, namun yang menjadi perhatian penting adalah bagaimana Jokowi mengelola sistem pemerintahan dan kepemimpinannya. Dengan demikian, setiap perintah kepada para menterinya bisa sesuai yang diharapkan.

"Apalagi kalau reshuffle sering terjadi, sementara kita tidak punya strong leadership yang kuat itu nanti hanya seperti angin lewat saja. Tidak sungguh-sungguh membawa perubahan," tutup Amien Rais.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya