KNKT: Butuh 4 Bulan Ungkap Penyebab KM Wihan Sejahtera Tenggelam

Lamanya proses penyelidikan lantaran adanya tahapan yang harus dilakukan.

oleh Dhimas Prasaja diperbarui 18 Nov 2015, 02:35 WIB
KM Wihan Sejahtera yang angkut ratusan penumpang, tenggelam di Teluk Lamong (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Liputan6.com, Surabaya - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai menyelidiki tenggelamnya Kapal Motor (KM) Wihan Sejahtera di Perairan Teluk Lamong Surabaya, Jawa Timur, Senin 16 November 2015. Butuh waktu 3 hingga 4 bulan untuk mengungkap penyebab dari kejadian tersebut.

"Untuk bisa memastikan penyebabnya, KNKT masih butuh waktu 3 hingga 4 bulan karena kami masih memerlukan data serta bukti-bukti yang bisa menjadikan hasil analisa kami nanti," kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran KNKT, Kapten Aldrin Dalimunte di Kantor Kesyahbandaran, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa 18 November 2015.

Lamanya proses penyelidikan lantaran adanya tahapan yang harus dilakukan. Tim akan mencatat semua kegiatan di kapal dan mencari barang bukti terkait kapal tenggelam.

"Masih agak panjang prosesnya, ada olah TKP, juga di antaranya wawancara serta informasi terkait tenggelamnya kapal," kata Aldrin.

Namun begitu, dia bersyukur proses investigasi yang dilakukan hari ini berjalan cukup baik. Hal ini lantaran semua instansi terkait dapat membantunya dalam penyelidikan tersebut.

"Jadi kami cukup leluasa melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti," ujar dia.

Aldrin menilai banyak sebab kecelakaan laut itu terjadi. Mulai dari kelebihan muatan hingga penempatan barang yang tidak sesuai standar penempatan.

"Untuk kasus ini (KM Wihan Sejahtera), kita belum bisa mengatakan apa-apa, Jadi kami menunggu analisa, terlalu dini kalau kita menyimpulkan dugaan-dugaan itu saat ini," pungkas Aldrin.

Beda Data Manifes

Dari hasil penyelidikan sementara hingga Selasa 17 November 2015, menyebutkan ada perbedaan manifes antara pemilik kapal dengan jumlah penumpang yang ada.

Data manifes menyebutkan penumpang kapal berjumlah 153 orang. Namun kenyataannya, penumpang di kapal itu berjumlah 212 orang, terdiri dari penumpang ada 179 dan ABK 25 orang.

"Memang kapal bisa mengangkut sekitar 500 orang tetapi yang menjadi permasalahan adalah perbedaan manifes, dari pemeriksaan sementara, penumpang bertambah dikarenakan banyak sopir truk yang membawa kernet tanpa membeli tiket." kata Kepala Syahbandar Tanjung Perak Surabaya, Rudiana.

Untuk memastikan jumlah itu, imbuh dia, pihaknya tengah menunggu hasil penyelidikan yang sedang dilakukan oleh KNKT. (Ali/Vra)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya