Observatorium Pertama di Pesantren Surakarta Diresmikan

Fasilitas yang dimiliki Observatorium CASA cukup lengkap, diantaranya 11 teleskop yang terdiri dari teleskop digital dan manual.

oleh Fajar Abrori diperbarui 07 Jul 2015, 09:07 WIB
Observatorium CASA, yang pertama di miliki sebuah pesantren di Surakarta, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Reza Kuncoro)

Liputan6.com, Surakarta - Observatorium milik Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam, Surakarta telah diresmikan. Peresmian yang digelar pada Senin 6 Juli 2015 malam dilakukan oleh Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin.

Peresmian Observatorium PPMI Assalam di kompleks pesantren, diawali dengan pembukaan tirai papan nama serta pengguntingan pita oleh Menag Lukman didampingi sejumlah petinggi PPMI Assalam.

Observatorium yang terletak di lantai 6 Gedung Santri Center tersebut merupakan yang pertama kali di Indonesia, yang dimiliki pesantren.

Pesantren tersebut juga memiliki klub astronomi yang bernama Club Astronomi Santri Assalam (CASA).

Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin meresmikan observatorium milik Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam, Surakarta, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Reza Kuncoro)


Pembina CASA, AR Sugeng Riyadi, mengatakan bahwa observatorium yang dimiliki Pesantren Assalam merupakan yang pertama kali di Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren. Obsevartorium yang dilengkapi dengan dom itu mulai dirintis pembangunannya pada tahun 2011 lalu.

"Observatorium pertama yang dimiliki pesantren, ya milik PPMI Assalam. Observatorium yang terletak di lantai 6 itu selesai dibangun pada tahun 2012 lalu," kata dia di PPMI Assalam.

Disebutkan dia, fasilitas yang dimiliki Observatorium CASA cukup lengkap, di antaranya 11 teleskop yang terdiri dari teleskop digital dan manual. Selain itu, juga dilengkapi dengan fasilitas kamera DSLR khusus astronomi untuk memotret fenomena astronomi.

"Observatorium ini menjadi laboratorium bagi para santri untuk mengenal ilmu astronomi. Dengan mengenal ilmu itu, maka para santri bisa belajar untuk menentukan kalender hijriyah, menentukan awal bulan Ramadan, 1 Syawal, Iduladha," jelas dia.

Kemudian, dia menambahkan, selain kegiatan itu para santri juga diajarkan untuk bisa menentukan arah kiblat masjid serta menentukan jadwal salat.

"Kita mengajarkan kepada para santri untuk menyusun jadwal salat serta menentukan kapan terjadinya gerhana bulan dan matahari," tutur dia. ‎(Tnt/Mut)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya