Kisah Relawan Indonesia Bawa Anjing Cari Korban Gempa Nepal

Anjing yang dibawanya akan menggonggong berkali-kali begitu menemukan korban yang masih hidup.

oleh Nafiysul Qodar diperbarui 07 Mei 2015, 04:31 WIB
Pejalan kaki melintas di sisi salah satu bangunan bersejarah yang hancur akibat gempa berkekuatan 7,8 di sekitar Kathmandu, Nepal (30/4/2015). Gempa berkekuatan 7,8 yang meluluhlantakkan Nepal pada 25 April 2015 lalu. (Nicolas Asfouri/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Misi kemanusiaan gempa 7,9 skala richter (SR) di Nepal membawa cerita tersendiri bagi sejumlah relawan dari Indonesia. Salah satunya Tim SAR Dog Jakarta Rescue (SDJR) yang langsung tergerak begitu mendengar kabar bencana dahsyat di Nepal. Mereka bahkan berangkat secara mandiri menggunakan pesawat komersial.

"Kami berangkat dari Jakarta pada 28 April beranggotakan 3 hendler/pawang anjing, 3 tenaga medis, dan 2 ekor anjing pelacak," ujar Fitriana salah satu Tim SAR Dog begitu tiba bersama 26 WNI yang berhasil dievakuasi tahap pertama di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (6/5/2015).

Selain melakukan pencarian, organisasi kemanusiaan yang beraviliasi di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ini juga membantu penanganan medis. Sebagai penunjang pencarian, Tim SDJR membawa 2 anjingnya yang bernama Alfa dan Delta langsung dari Jakarta.

"Kalau kondisi collaps seperti itu anjing yang paling bermanfaat, karena dia punya kemampuan pengendusan 40 kali dari manusia. Dibandingkan dengan alat detector apapun, hidung anjing tetap paling utama," sambung dia.

Fitri, sapaan relawan kemanusiaan itu menjelaskan, anjingnya akan menggonggong berkali-kali begitu menemukan korban yang masih hidup. Namun jika menemukan korban yang sudah tak bernyawa, anjing hanya menggonggong beberapa kali sambil berusaha mundur dan menjauh.

29 April, hari pertama Tim SDJR tiba di Balaju Area dekat Kota Kathmandu, Nepal. Mereka melihat banyak bangunan yang telah rata dengan tanah. Fitri menuturkan, struktur bangunan di Nepal tak cukup kuat menahan guncangan lindu berkekuatan hampir 7,9 SR.

"Hari pertama, kami di Balaju Area dekat Kota Kathmandu. Luar biasa, di sana banyak sekali yang tertimbun. Bangunan di sana (Nepal) itu beda sama di sini. Struktur bangunan di sana itu kurang semen. Jadi mudah runtuh begiti terkena goncangan."

Selama pencarian menggunakan anjing pelacak, tim telah menemukan 9 korban. 1 Kritis, sementara 8 lainnya meninggal dunia.

"Pencarian dengan anjing menemukan 6 ditambah 2 tewas dan 1 kritis. Jadi total 9 korban di wilayah Balaju. 6 Jasad kami temukan di salah satu gedung hotel. 2 lagi di bawah reruntuhan gedung yang lain," terang Fitri.

Sementara, 1 korban kritis ditemukan setelah tim beberapa hari melakukan assesment di wilayah tersebut. Warga sekitar yang selamat menyatakan sudah tidak ada korban lagi. Namun anjing pelacak tiba-tiba menggonggong berkali-kali di dekat sebuah reruntuhan puing bangunan.

Kemudian hari selanjutnya, tim assesment tempat dan pada hari terakhir. Meski sudah dinyatakan clear, tapi masih menemukan 1 korban yang kritis.

"Pada 4 Mei kemarin sebelum kami pulang, jadi desa itu sudah dinyatakan clear, ada 40 rumah collaps semua. Kami melakukan assesment ternyata masih ditemukan (1 korban kritis). Dan benar ada yang mengatakan keponakan mereka belum ditemukan. Tapi mereka nggak sadar saat itu. Baru dilakukan pengangkatan puing. Sepertinya kritis sekali karena sudah lama," kenangnya.

Nepal diguncang gempa 7,9 SR pada Sabtu 25 April 2015. Pusat gempa terletak sekitar 50 km sebelah barat laut dari Kathmandu, pada kedalaman 9,3 kilometer, yang dianggap dangkal.

Korban tewas di Nepal hingga kini menembus 7.000 jiwa. Pejabat Departemen Dalam Negeri Nepal Laxmi Prasad Dhakal memperkirakan jumlah korban tewas akan terus meningkat. Sementara lebih dari 4.600 orang terluka. (Ali)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya