Politisasi Kerjasama Proton-Adiperkasa Bikin Investor Ogah Masuk

Pasar otomotif di Indonesia masih luas dan tumbuh terus dengan cukup stabil.

oleh Septian Deny diperbarui 12 Feb 2015, 19:35 WIB
PT Adiperkasa Citra Lestari menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Proton Holdings Berhard untuk proyek mobil nasional.

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi XI Hendrawan Supratikno menilai kerjasama produsen otomotif asal Malaysia Proton dengan PT Adiperkasa Citra Lestari semata-mata merupakan business to business (B to B).

"Itu perjanjian B to B, itu kerjasama antar dua perusahaan, bahwa Presiden datang itu karena kenal dengan Hendropriyono dan Mahatir dari Proton. Kedatangan itu sebagai bentuk dukungan semata-mata untuk investasi di Indonesia. Jangan dipolitisasi," jelas Politisi PDI Perjuangan ini di Jakarta, Kamis (12/2/2015).

Menurut dia, jika beberapa kalangan beranggapan kehadiran Jokowi dalam penandatangan kerjasama antara Proton dengan Adiperkasa untuk mempermudah kerjasama, itu tidak benar.

Ia menilai telah terjadi politisasi yang tentunya akan membuat investor enggan berinvestasi di Indonesia. Politisasi Itu hal yang dinilai berlebihan.

"Kerjasama ini harusnya pabrikan menjadi terangsang untuk kerjasama dengan Indonesia. Jangan tiba-tiba akibat politisasi, maka investor lain jadi malas kedepannya," tutur dia.

Hendropriyono sendiri dalam berbagai kesempatan menilai banyak pihak yang iri hati dengan besarnya tudingan kepadanya. "Banyak yang menuding saya dimanja Presiden karena tak melihat secara obyektif masalahnya," tutur dia.

Menurutnya kehadiran Jokowi dalam penandatangan MoU dengan Proton harus dilihat sebagai langkah pemerintah memacu semangat rakyatnya untuk bersama-sama membangun negaranya sendiri.

"Dulu Obama menyaksikan langsung perjanjian pesawat Boeing dibeli maskapai lokal. Itu statusnya kita beli, apalagi ini kita mau membangun pabrik sendiri," pungkasnya.

Dukungan juga datang dari pelaku usaha. "Saya nilai kerjasama dengan Proton patut kita dukung, mengapa? Karena secara jujur harus diakui bahwa satu-satunya negara di Asean yang membangun mobil nasional murni milik nasional adalah Malaysia. Dan itu memerlukan visi dan komitmen berani dari seorang pemimpin visioner seperti yang dilakukan oleh Dr. Mahathir," kata Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulistio.

Menurutnya pasar otomotif di Indonesia masih luas dan tumbuh terus dengan cukup stabil. "Kalau Malaysia bantu kita mobnas harusnya kita terima kasih welcome," ujar Suryo. (Dny/Nrm)

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya