Sanksi Barat ke Rusia Tak Pengaruhi Kinerja Produsen AK-47

Ekonomi Rusia yang tertekan tidak berdampak signifkan bagi produsen pembuat senjata Kalashnikov.

oleh Agustina Melani diperbarui 08 Feb 2015, 20:27 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin. (Reuters/RT/Sergei Karpukhin)

Liputan6.com, London - Ekonomi Rusia kini tertekan seiring harga minyak merosot tajam ditambah sanksi barat. Hal itu tak mempengaruhi produsen senapan dari Rusia Kalashnikov.

Berdasarkan pernyataan manajemen perusahaan Kalashnikov, perseroan mencatatkan pendapatan naik 28 persen menjadi US$ 45 miliar pada 2014 dibandingkan 2013. Produksi pun naik dua kali lipat.

"Meski pun ada sanksi, Kalashnikov melaporkan laba bersih untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun," ujar Direktur Kalashnikov Alexei Krivoruchko, seperti dikutip dari laman CNN Money, Minggu (8/2/2015).

Produsen AK-47 ini salah satu perusahaan Rusia pertama yang terkena dampak atas sanksi perdagangan atas serangan negara itu ke Ukraina.
Adapun pertumbuhan perseroan didukung dari pengembangan pelanggan baru terutama di Asia dan Afrika. Selain itu, manajemen juga mengadopsi untuk strategi pemasaran baru pada 2014.

Manajemen perseroan juga meluncurkan merek baru yang ditujukan untuk masyarakat sipil termasuk pakaian dan aksesoris. Tak hanya itu perusahaan juga menambah slogan baru melindungi perdamaian.

Militer Rusia dan lainnya merupakan pelanggan Kalashnikov yang paling utama. Bidang pertahanan dan keamanan nasional satu-satunya departemen untuk lepas dari pemotongan anggaran 10 persen yang diperintahakn oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. Belanja militer Rusia diperkirakan meningkat sebesar 85 persen antara 2012 dan 2017.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya