Menpora Cerita Ramalan Gus Dur pada Ahok

Imam Nahrawi mengakui kedatangannya untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat atas dilantiknya Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.

oleh Luqman Rimadi diperbarui 08 Des 2014, 14:26 WIB
Basuki Tjahaja Purnama (Liputan6.com/Andrian Martinus Tunay)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri ‎Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mendatangi Balaikota DKI Jakarta untuk bertemu dengan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Dalam kesempatan itu, Imam melakukan pertemuan tertutup dengan Ahok.

Setelah 10 menit berselang, Imam pun kemudian terlihat keluar dari ruang tempat pertemuan tersebut dilakukan. Politisi PKB itu mengaku kedatangannya untuk bersilaturahmi dan mengucapkan selamat atas dilantiknya Ahok sebagai Gubernur pada 19 November.

"Tadi saya rapat di Istana bersama seluruh kementerian dan pemerintah daerah. Kemudian karena jaraknya begitu dekat dengan Balaikota, saya harus mampir ke sini. Karena sejak beliau dilantik menjadi Gubernur DKI, saya belum mengucapkan selamat, kecuali waktu di Istana pas pelantikan," ujar Imam, Senin (8/12‎/2014).

Sebagai seorang Gusdurian atau pengikut Gus Dur, Imam bercerita, jabatan gubernur yang diemban Ahok selama ini telah diprediksi Gus Dur beberapa tahun lalu.

Menurut Imam, kala itu, Gus Dur sesumbar, Ahok yang berasal dari suku dan keyakinan minoritas di Indonesia kelak akan menjadi seorang gubernur di suatu wilayah.

"Sebagai orang sahabat dan orang yang disebut-sebut Gus Dur waktu itu, bakal jadi Gubernur DKI, saya tentu harus mengucapkan selamat. Karena sebelum beliau jadi Gubernur, Gus Dur sudah pernah bilang, Pak Ahok akan jadi Gubernur. Nah ini cita-cita Gus Dur kesampaian," ucap politisi PKB itu.

Mendengar ucapan Imam, Ahok tak membantahnya. Ahok mengiyakan kalau presiden ke-4 itu pernah meramalnya akan menjabat gubernur. Dan, ucapan Gus Dur pun menjadi kenyataan.

"Jadi cita-cita Gus Dur kesampaian. Teman-teman yang bantu nyalonin aku dulu nih pada kesampaian deh," ucap Ahok tersenyum.

Cerita Ahok Jual Nama Gus Dur

Ahok sebelumnya pernah bercerita mengenai peran sosok Gus Dur yang selalu membelanya, kala orang lain mendiskriminasikannya. Cerita tersebut dimulai ketika Ahok saat itu memutuskan untuk maju dalam Pemilihan Gubernur Bangka Belitung belasan tahun silam.

"Waktu itu saya mundur sebagai Bupati Belitung Timur karena saya mau mencalonkan diri sebagai Gubernur Bangka Belitung," ujar Ahok dalam testimoninya dalam acara Haul ke-4 Gus Dur di Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan beberapa bulan lalu.

Sebagai minoritas, tentu sulit bagi Ahok mendapat dukungan. Apalagi di Bangka Belitung mayoritas adalah Islam. Namun, ia justru mendapat dukungan penuh dari Gus Dur untuk maju.

"Tidak ada partai yang mau dukung saya," ujar Ahok.

Dukungan dari Gus Dur itu bermula saat Ahok bertemu dengan putri Gus Dur, Yenny Wahid untuk membicarakan mengenai keinginannya mencalonkan diri sebagai calon gubernur. Lalu Ahok juga bertemu dengan Muhaimin Iskandar juga untuk membicarakan apakah Gus Dur mau mendukungnya maju sebagai cagub.

"Waktu itu Muhaimin bilang, mana mungkin Gus Dur mau mendukung kamu," kenang Ahok menirukan ucapan Muhaimin.

Namun, Ahok mengaku tak patah arang. Ia memberanikan diri untuk bertemu dengan Gus Dur dan memaparkan program-program yang dicanangkan jika terpilih sebagai gubernur. Kala itu, Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden RI.

"Saya diskusi dan bilang saya mau adakan pensiun pertama di Bangka Belitung. Lalu Gus Dur tertarik," ucap Ahok.

Meski warga Bangka Belitung menentang keras dukungan Gus Dur terhadap Ahok. Karena dianggap mendukung seorang 'kafir'. Namun, Gus Dur meminta agar Ahok tak memedulikan hal itu.

"Saya jual nama Gus Dur, saya bilang saya sudah dapat restu dari Gus Dur. Tapi tetap saja, sampai Gus Dur dibilang kiai palsu," kata dia.

"Gus Dur meminta saya membiarkan hal tersebut. Mereka tidak mengerti Alquran, kata Gus Dur, Islam tidak seperti itu," ucap Ahok menirukan Gus Dur. (Mvi/Sss)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya