John McCain Picu Konflik AS dan Hungaria

John McCain menyebut PM Hungaria sebagai diktator neo-fasis.

oleh Andreas Gerry Tuwo diperbarui 04 Des 2014, 14:12 WIB
John McCain, Foto:Reuters

Liputan6.com, Washington - Senator serta politisi berpengaruh asal Amerika Serikat (AS), John McCain mengeluarkan pernyataan provokatif kepada Hungaria. Tidak hanya provokatif komentar dari McCain dapat memicu ketegangan antarkedua negara.

Pernyataan bernada ofensif dari veteran perang Vietnam tersebut ditujukkan kepada Perdana Menteri (PM), Viktor Orban. Ia menyebut Orban sebagai diktator neo-fasis.

Komentar tak pantas dari McCain ini keluar dari mulutnya sebelum senat AS resmi memilih produser opera sabun, Colleen Bell sebagai Dubes negara tersebut. Secara tegas McCain menentang penujukkan itu.

"Colleen Bell sama sekali tidak punya kapabilitas untuk menduduki jabatan tersebut," sebut McCain, seperti dikutip dari BBC, Kamis (4/12/2014).

Orang berpengaruh di Partai Republik ini mengataka ia tidak habis pikir kenapa Bell sampai bisa ditempatkan di Hungaria. McCain menilai Hungaria saat ini sangat dekat dengan negara penentang AS nomor satu Rusia.

Sehingga pemberian jabatan dubes AS untuk Hungaria tidak bisa diberikan ke sembaran orang. McCain pun berpikir jabatan itu diberikan akibat Bell sudah menggelontarkan jutaan dollar untuk tim kampanye Presiden Barack Obama 2012 lalu.

"Saya mengerti permainan ini, Bangsa (Hungaria) itu sebentar lagi menyerahkan kedaulatannya kepada seorang dikator neo-fasis yang sudah bersekongkol dengan Vladimir Putin," ungkap dia.

Mersepons komentar dari McCain, Pemerintah Hungaria sontak naik pitam. Menteri Luar Negeri, Peter Szijjarto pun langsung memangil Kuasa Usaha AS, Andre Goodfriend. Kepada perwakilan AS itu, Szijjarto menyampaikan semua tuduhan McCain sama sekali tidak benar.

Belakangan ini Hungaria memang dikenal sangat dekat dengan Negeri Beruang Merah. Sebab, PM Orban tegas menolak semua sanksi yang dijatuhkan AS dan Uni Eropa (UE) kepada Moskow terkait dengan yang dilakukan Rusia atas Ukraina. (Mut)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya