Sulitnya Identifikasi Jasad Bayi dan Bocah Korban MH17...

Tim forensik menggunakan 3 tahap identifikasi jenazah: DNA, sidik jari atau sidik kaki, dan rekaman gigi.

oleh Elin Yunita Kristanti diperbarui 28 Jul 2014, 13:21 WIB
40 Mobil jenazah langsung mengantar para jenazah ke kota Hilversum, di mana proses identifikasi akan dimulai.

Liputan6.com, Jakarta - Proses identifikasi terhadap para korban kecelakaan pesawat Malaysia Airlines Penerbangan MH17 terus dilakukan. Namun, para ahli forensik menemui banyak kesulitan saat mengidentifikasi bayi dan anak-anak.

Keluarga yang berduka pun diminta untuk menyediakan tambahan informasi, seperti sidik jari atau benda lain yang mungkin menyimpan jejak mereka. Misalnya botol susu. Bekas tapak kaki para bocah dari kamar atau kamar mandi juga bisa dijadikan bukti pendukung.

Tak seperti orang dewasa yang mungkin punya catatan gigi untuk membantu mengidentifikasi jasad mereka, sebanyak 80 anak -- termasuk 3 bayi yang ada dalam pesawat tak punya pace maker (alat pacu jantung), tato, atau tindikan untuk membantu identifikasi visual awal.

Tim forensik menggunakan 3 tahap identifikasi jenazah: DNA, sidik jari atau sidik kaki, dan rekaman gigi.

Untuk warga Malaysia, sidik jari seseorang diambil saat ia berusia 12 tahun,  untuk kartu identitas nasional, namun untuk bocah yang lebih muda tak diambil secara rutin. Kebiasaan itu tak dilakukan di negara lain.

"Untuk anak-anak dan bayi, kami membutuhkan sejumlah item tambahan seperti botol gelas yang mungkin anak-anak minum dari sana. Namun masing-masing kasus berbeda di lapangan, yang membutuhkan bukti yang berbeda," kata pejabat Departemen Investigasi kriminal Australia, T. Narenasagaran seperti Liputan6.com kutip dari News.com.au, Senin (28/7/2014).

Untuk awak pesawat lebih mudah. Sebab, mereka secara rutin memberikan jejak kaki dan sidik jari ketika bekerja di industri penerbangan. Untuk membantu identifikasi bencana.

Sekitar 200 ilmuwan forensik dan ahli patologi masih melakukan tugas berat nan muram untuk mengindentifikasi jasad-jasad korban yang ditempatkan di Corporal Van Oudheusden Barracks  di Hilversum, Belanda.

Termasuk di antaranya tim ahli dari Australia, Jerman, Inggris, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, dan tak ketinggalan dari Belanda.

Berkas-berkas tebal terkait  298 korban telah dikirim. Namun para ahli terus mencari petunjuk.

Saat orangtua Fatima Dyczynsk tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, mereka juga dimintai bukti medis lebih lanjut terkait putrinya: DNA tambahan.

Permintaan itu membuat sang ibu, Angela Dyczynsk makin stres. Ia merasa sudah memberikan data komperehensif ketika masih di Perth. "Padahal berkas putri kami sudah lengkap," kata dia.

Kesulitan yang juga ditemui tim adalah mengidentifikasi jasad sau keluarga yang semuanya tewas dalam tragedi tersebut. Para peneliti harus memperoleh bukti yang menguatkan untuk mengidentifikasi berbagai bagian tubuh. Apalagi, beberapa jasad mungkin telah menyatu saat terjadi insiden ledakan atau dalam kondisi hangus.

"Tidak semua jasad kembali ke Belanda -- kita tidak tahu berapa banyak yang bisa diidentifikasi," kata Attila Hohn, kepala inspektur tim forensik Jerman.

Tak hanya sulit, tapi juga makan waktu tak sebentar. "Investigasi semacam ini sayangnya membutuhkan waktu lama, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan," kata pejabat Kepolisian Belanda, Patricia Zorko.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya