Produsen Furnitur Olympic Bakal Lepas Saham ke Publik

Kini perseroan memiliki omzet sekitar Rp 400 miliar-Rp 500 miliar per tahun.

oleh Fiki Ariyanti diperbarui 10 Jul 2014, 14:24 WIB
(Foto: Antara)

Liputan6.com, Jakarta - PT Cahaya Sakti Furintraco, produsen furniture dengan merek Olympic berniat untuk melepas saham ke publik. Langkah penawaran saham perdana/initial public offering (IPO) ini agar perseroan dapat mengembangkan bisnis.

Presiden Direktur  PT Cahaya Sakti Furintraco, Au Bintoro mengatakan, rencana melepas saham ke publik ini agar perusahaan dapat memiliki nilai tambah. Dengan memiliki nilai tambah itu diharapkan target pertumbuhan kinerja perseroan mencapai 15 persen per tahun.

"Mau initial public offering (IPO) supaya bisa dikelola lebih profesional, ada nilai tambah dan bisa memperoleh dana murah dan cepat ekspansi," ujar Au, saat berbincang dengan Liputan6.com, seperti ditulis, Kamis (10/7/2014).

Perseroan memproduksi furnitur lokal merek Olympic yang merupakan pionir di kelas produk bongkar pasang alias knock down. Saat ini perseroan tidak hanya menguasai pasar dalam negeri tetapi juga merajai pasar ekspor di Timur Tengah.

"Sekitar 80 persen dari produk furnitur Olympic diserap pasar domestik, sedangkan sisanya dilempar ke luar negeri, terutama Timur Tengah," ujar Au.

Saat ini tercatat ada lebih dari 3.000 toko furnitur yang menjual produk Olympic di seluruh Indonesia. Perseroan mampu menjual beragam jenis furnitur hingga 100 ribu unit dalam waktu sebulan. Furnitur itu diproduksi di sebuah pabrik yang berlokasi di pinggiran kota hujan, di Jalan Kaum Sari, Kedung Halang, Bogor.

Menempati area seluas 14 hektar, Au Bintoro mempekerjakan sekitar 1.200 karyawan untuk memproduksi sebanyak lebih dari 1.000 produk furnitur mulai dari meja belajar, furnitur untuk dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan masih banyak lainnya.

Perseroan setiap bulan selalu meluncurkan dua sampai tiga produk baru. Salah satu produk anyar yang dirilis adalah furnitur religi untuk menyambut puasa pada 2014.

"Tapi kami juga mengimpor produk furnitur lain dari China karena memang nggak bisa kami bikin di sini, seperti gelas furnitur. Porsinya 15 persen. Kami nggak bermain di situ, tapi produknya ada di gudang kami dan menggunakan merek Olympic," kata Au.

Saat ini perseroan telah meraup omzet sektiar Rp 400 miliar-Rp 500 miliar per tahun. Jumlah ini melesat tajam dari pendapatan pertamanya di bisnis furnitur Rp 100 juta-Rp 200 juta.  Meski usahanya tumbuh pesat sejak tahun 1980 an, pihaknya tak sanggup dengan kenaikan upah minumum yang terus naik terutama di Bogor.

Au menuturkan, pihaknya akan merelokasi pabrik furniture Olympic ke Cikembar, Sukabumi. Cara ini dilakukan untuk membesarkan nama merek lokal ini. Au telah menyiapkan lahan seluas 28 hektar untuk membangun pabrik furnitur secara terkluster. Sedangkan keseluruhan luas area lahan kawasan industri itu 235 hektar. (Fik/Ahm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya