Musisi Cari Akar Masalah Terpuruknya Industri Musik

Industri musik di Indonesia diketahui tengah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir.

oleh Hernowo Anggie diperbarui 25 Apr 2014, 10:15 WIB
liputan6.com

Liputan6.com, Jakarta Industri musik di Indonesia diketahui tengah terpuruk dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan fisik album yang tak lagi mampu diandalkan serta meluasnya pembajakan, seolah menjadi senjata mematikan bagi para insan musik.

Lewat sebuah diskusi bertajuk `Musik Sketsa Sosial & Politik` yang digelar di Cowboys Cafe, Kemang, Kamis (24/4/2014), para musisi beramai-ramai mencari akar permasalahan terpuruknya industri musik Indonesia yang konon sudah dimulai sejak lama.

"Pada waktu era 80-an selalu sama, musik dibilang terpuruk, menyedihkan. Tapi itu bukan berarti matinya kreativitas kan," ucap Sawung Jabo, seniman yang dikenal aktif menyuarakan kritik sosial terhadap pemerintah.

Ia berpendapat, di era digitalisasi musik seperti saat ini, karya yang lahir justru dirasa tak banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain. Faktor tersebut dianggap menjadi masalah terpuruknya industri musik.

"Mungkin lagu yang lebih baik banyak yang tidak direkam. Sekarang mau nggak lagunya terkenal tapi justru tidak bermanfaat buat kehidupan? Kan lebih baik lagunya terkenal tapi bermanfaat," sambung dia.

Peran digitalisasi dianggap penyanyi Oppie Andaresta ikut andil dalam 'merontokkan' perkembangan musik di Tanah Air. Oppie melihat jika masyarakat Indonesia belum siap untuk memahami digitalisasi musik dengan baik.

"Banyak orang Indonesia belum siap (menghadapi digitalisasi) sehingga industri musik nyungsep. Justru kalau musik dan lirik sosial itu banyak, kayak Navicula dari Bali itu, berkomitmen membangun komunitas dan sekarang band-band indie bisa panjang umur karena komunitas," urai dia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya