Iko Uwais Jajal Hollywood, Sampai Takut Kerupuk

Berkat seni beladiri yang ditekuninya sejak masih kanak-kanak, Iko memang menjadi ikon pemain film laga nasional.

oleh Aditia Saputra diperbarui 03 Apr 2014, 16:00 WIB
Iko Uwais

Liputan6.com, Jakarta Sukses bermain di film Merantau, berbagai tawaran pun mampir ke Iko Uwais. Salah satunya adalah bermain film The Raid. Suami Audy ini juga berkesempatan untuk menjajal Hollywood dengan menjadi salah satu pemain.

Berkat seni beladiri yang ditekuninya sejak masih kanak-kanak, Iko memang menjadi ikon pemain film laga nasional. Kepandaiannya mengolah jurus bela diri asli Indonesia itu membawanya ke Hollywood.

Hal ini bermula saat Iko yang memiliki kontrak beberapa film dengan Gareth Evans membuat sebuah film bertajuk The Raid. film ini telah dipuji oleh kritikus dan penonton di berbagai festival sebagai salah satu film terbaik seni bela diri.

Kesuksesan film The Raid membuat kepincut Hollywood untuk membuat ulang film ini. Alhasil, Iko pun diminta datang ke Hollywood untuk ikut berperan serta.

Iko memang menjadi lawan main sekaligus menjadi pelatih silat atau fighting choreographer  film besutan Hollywood. The Raid, film laga terbaru Iko, dibeli Sony Pictures, untuk di-remake dan diedarkan ke seluruh dunia.
            
"Mungkin akan tiga bulan di Amerika melatih para pemain film untuk fighting choreography. Tapi masih untuk latihan, belum syuting," kata Iko.

Selain menjadi fighting choreographer, Iko juga dipercaya untuk bermain dalam film laga garapan sutradara Keanu Reeves berjudul Man Of Tai Chi. Filmnya sendiri sedang dalam penggarapan.             
Tawaran menjadi fighting choreographer untuk film besutan Hollywood menjadi berkah tersendiri. Padahal tak sedikit nama-nama fighting choreographer tenar yang sudah mendunia di sana, tapi produser film Sony Pictures lebih memilih Iko.     

"Saya nggak tahu kenapa mereka memilih saya sebagai koreografer? Saya pernah tanya, kenapa nggak pilih Samo Hung yang sudah terkenal?” ujar Iko.

Terpilihnya Iko lantaran mereka tertarik dengan seni bela diri Pencak Silat yang dikuasai pemuda kelahiran Jakarta, 12 Februari 1983 itu. Sehari-hari Iko memang bekerja di rumah produksi yang membuat film-filmnya sebagai tim kreatif yang membuat koreografi silat untuk film-filmnya. Karena itu ia menolak menggunakan stunt-in untuk adegan perkelahian dalam filmnya.
"Sayang, saya sudah buat koreografinya, tapi dimainkan orang lain. Lagi pula gerakan itu sudah menyatu dengan diri saya," katanya.

Akibat tak mau menggunakan stuntman, Iko harus menanggung resikonya, seperti badan lecet dan lebam-lebah. Bahkan ia pernah mengalami kecelakaan serius ketika latihan koreografi sebelum syuting; engsel lututnya lepas, ligamennya putus.

"Lutut memang sangat rentan, walaupun sudah sembuh, gampang kena lagi," terang Iko sambil memperlihatkan lututnya.

"Tangan saya sampai lebam-lebam karena harus menangkis golok (property). Tapi karena adegan itu harus diulang sebanyak 15 kali di tempat yang sama, akibatnya pergelangan tangan saya bengkak,” kata Iko lagi.
 
Tapi itu adalah bagian dari resiko yang dipilih hanya sendiri. Karena bagi pria Betawi ini totalitas dalam menjalni profesi adalah hal yang penting.

Membicarakan silat dengan Iko membuatnya berapi-api, dan seakan tak mau berhenti. Namun siapa sangka jika Iko takut dengan sebuah benda yang menurut banyak orang tidak masuk akal. Ternyata, Iko takut dengan krupuk. Ketakutan ini sudah muncul sejak Kak Iko kecil.

Menurutnya, ia sangat alergi dengan remah-remah kerupuk, bahkan harus menyiram air berulang kali untuk menghilangkan rasa gatalnya. "Kalau kena kulit rasanya gremet-gremet, geli dan gatal," ujar Iko.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya