Dilarang Tenggak Premium, Toyota: Kami Ikut Aturan

Produsen otomotif berkelit pihaknya telah membuat buku panduan yang mengharuskan mobil murah mengonsumsi BBM beroktan 92.

oleh Gesit Prayogi diperbarui 27 Mar 2014, 17:51 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Kehadiran mobil murah atau Low Cost Green Car (LCGC) terus menuai kritik. Masih banyaknya pemilik yang menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi membuat standar dari mobil LCGC seolah berlalu begitu saja.

Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM), Rahmat Samulo mengatakan, mobil murah besutannya telah memenuhi semua standar yang ditetapkan pemerintah. TAM telah mengimbau pemilik mobil Agya untuk mengonsumsi bahan bakar beroktan (RON) 92.

Namun standar boleh saja dibuat, kenyataannya di lapangan, banyak konsumen yang tidak mengindahkannya dan justru memilih BMM bersubsidi.

"Kami mengikuti aturan. Itu (standar bahan bakar) sudah tertuang dalam buku perawatan. Di mana Agya diharuskan menggunakan bahan bakar dengan oktan 92," jelasnya kepada Liputan6.com, Kamis (27/3/2014).

Mobil murah yang masih mengonsumsi BBM kini kembali menjadi sorotan Himpunan Swasta Nasional dan Gas Bumi (Hiswana Migas). Ketua Hiswana Migas, Eri Purnomo Hadi bahkan mengusulkan agar mobil murah didorong menggunakan bahan bakar gas (BBG) lewat program konversi BBM.

Namun diakuinya, usul ini memerlukan dukungan dari seluruh kementerian terkait. Saat ini, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah berkomitmen mempercepat program konversi BBM ke BBG seperti menyediakan infrastruktur dan mematok harga jual BBG.

Dukungan juga harus diberikan kementerian lain dengan tujuan memangkas konsumsi BBM lewat mandatori penggunaan BBG pada mobil-mobil baru. Nyatanya, kementerian lain justru menyetujui program mobil murah yang justru menambah konsumsi BBM.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya