Ini Skenario Terburuk IHSG Setelah Pemilihan Umum

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi kembali tembus level 4.000 pada 2014.

oleh Pebrianto Eko Wicaksono diperbarui 24 Feb 2014, 17:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat anjlok apabila kebijakan ekonomi dari Presiden yang terpilih tidak sesuai harapan pelaku pasar. IHSG bisa kembali tembus level 4.000 pada 2014.

"Seandainya Indonesia memilih Presiden kebijakannya tidak berpihak ekonomi Indonesia, IHSG di level 4.000an," kata John, dalam Investor Forum 2014, di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, Senin (24/2/2014).

John mengatakan, presiden yang terpilih harus memiliki keberpihakan pada pasar. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia.

"Sebenarnya tolak ukur mudah dia punya platfom ekonomi Indonesia, yang market friendly," ungkap John.

John menambahkan, saat masa pemilihan umum ada sedikit goncangan terhadap IHSG. Namun setelah pemilihan umum, IHSG  akan mengalami penguatan.

"Setelah pemilihan umum, sepanjang pengalaman kita pemilu lain, IHSG tumbuh kuat. Syaratnya  Indonesia mengangkat Presiden yang market friendly, Maret- April 4.800, April hingga akhir tahun tergantung pemilihan presidennya," jelas John.

Namun, John tidak bisa menyebutkan sosok calon pemimpin bangsa yang memilki keberpihakan pada pasar tersebut.

"Dalam membahas outlook saham ada sedikit batasan, saya nggak boleh aktif partisipasi secara politik. Yang ini marekt friendly, yang itu tidak (calon presiden), nanti saya dianggap kampanye," tutup John sambil tertawa.


Sementara itu, Direktur Utama PT Manajemen Mandiri Investasi, Muhammad Hanif mengatakan, calon presiden dan wakil presiden yang terpilih harus mendukung pembangunan infrastruktur Indonesia.

"Siapapun capres dan cawapres presiden yang tidak hanya diterima publik dan pasar keuangan dan dapat mendukung pembangunan mendasar pembangunan infrastruktur, kami harap semakin lancar di masa yang akan datang,"  kata Hanif.

Hanif mengatakan, masyarakat  Indonesia kini sudah terbiasa dengan pemilihan umum. Pasalnya sistem pemilihan umum sudah diterapkan dalam pemilihan pemerintah daerah.

"Pemilu kami lihat bahwa baik pemilu parlemen, maupun Ppesiden ini bukan suatu yang luar biasa lagi," tutur Hanif.

Hanif menambahkan, dengan sudah terbiasanya masyarakat mengahdapi pesta demokrasi tersebut, pemilihan calon presiden juga diperkirakan lancar

 "Tapi kami akan memiliki presiden yang baru, dalam waktu 10 tahun terakhir dalam kehidupan berkembang, bukan pemilihan biasa lagi buat kita, tahun ini tidak ada hal yang membuat pemilihan tidak lancar" ungkap Hanif. (Pew/Ahm)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya