Qibuyut sengaja membawakan syalawat dengan aliran musik rock karena mantan anak jalanan ini akrab dengan gaya musik ini. Kehidupan yang tidak teratur dan musik antikemapanan atau punk rock ternyata sudah lama dijalani mereka.
Anak jalanan ini bisa bersentuhan dengan lingkungan yang religius berkat pendekatan Kiai Maman Faqih, pengasuh Pondok Pesantern Al Mizan Majalengka. Anak jalanan ini dicoba untuk kembali mengenal arti kehidupan. Mereka tidak dipaksa masuk pesantren namun dibiarkan hidup di dunianya tetapi selalu didampingi dan diberi pengertian tentang pentingnya sebuah agama.
Advertisement
Kehadiran komunitas yang dibentuk lima tahun silam bukan tak mengundang kritik. Gaya musik yang dianggap musik keras ini dipandang sebagian tokoh agama dan masyarakat tidak layak melantunkan syair syalawat.
Bergabung dengan Qibuyut membawa banyak perubahan bagi anak jalanan ini. Dari kehidupan keras kini semakin religius dalam perilaku. Qibuyut kini semakin eksis dengan gaya musiknya sendiri. Lagu-lagu pun diciptakan dengan isi mengagungkan kebesaran nabi dan juga kritikan terhadap perilaku masyarakat saat ini dalam menjalankan agama Islam.
Di luar kegiatan bermusik, kelompok ini juga bergumul di berbagai usaha untuk bertahan hidup. Mereka menyambung hidup dengan membuat abu gosok kemasan baru sampai usaha perbengkelan dan jualan koran. Hidup penuh perjuangan namun dengan keyakinan diperoleh kemenangan. Itulah falsafah hidup Komunitas Qibuyut.(YYT/Satya Pandia)