Merangkul Anak Jalanan dengan Punk Rock

Banyak cara untuk merangkul anak jalanan agar dekat dengan agama. Pendekatannya salah satunya lewat musik seperti di Majalengka, Jawa Barat. Sebuah pondok pesantren merangkul anak jalanan dengan punk rock.

oleh Liputan6Diterbitkan 14 Oktober 2006, 13:10 WIB
Liputan6.com, Majalengka: Anak jalanan identik dengan ketidakteraturan gaya hidup. Apalagi masalah agama mungkin jarang menyentuh kehidupan mereka. Namun hal ini ternyata tidak berlaku bagi sekelompok anak jalanan yang tergabung di Komunitas Qibuyut, Majalengka, Jawa Barat. Lewat aliran musik rock mereka melantukan syalawat sambil menunggu berbuka puasa.

Qibuyut sengaja membawakan syalawat dengan aliran musik rock karena mantan anak jalanan ini akrab dengan gaya musik ini. Kehidupan yang tidak teratur dan musik antikemapanan atau punk rock ternyata sudah lama dijalani mereka.

Anak jalanan ini bisa bersentuhan dengan lingkungan yang religius berkat pendekatan Kiai Maman Faqih, pengasuh Pondok Pesantern Al Mizan Majalengka. Anak jalanan ini dicoba untuk kembali mengenal arti kehidupan. Mereka tidak dipaksa masuk pesantren namun dibiarkan hidup di dunianya tetapi selalu didampingi dan diberi pengertian tentang pentingnya sebuah agama.

Kehadiran komunitas yang dibentuk lima tahun silam bukan tak mengundang kritik. Gaya musik yang dianggap musik keras ini dipandang sebagian tokoh agama dan masyarakat tidak layak melantunkan syair syalawat.

Bergabung dengan Qibuyut membawa banyak perubahan bagi anak jalanan ini. Dari kehidupan keras kini semakin religius dalam perilaku. Qibuyut kini semakin eksis dengan gaya musiknya sendiri. Lagu-lagu pun diciptakan dengan isi mengagungkan kebesaran nabi dan juga kritikan terhadap perilaku masyarakat saat ini dalam menjalankan agama Islam.

Di luar kegiatan bermusik, kelompok ini juga bergumul di berbagai usaha untuk bertahan hidup. Mereka menyambung hidup dengan membuat abu gosok kemasan baru sampai usaha perbengkelan dan jualan koran. Hidup penuh perjuangan namun dengan keyakinan diperoleh kemenangan. Itulah falsafah hidup Komunitas Qibuyut.(YYT/Satya Pandia)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya