Liputan6.com, Jakarta - Warna biru khas menghiasi makam firaun Mesir kuno akhirnya terungkap kembali ke dunia modern.
Setelah ribuan tahun menjadi misteri, peneliti berhasil merekonstruksi 12 varian autentik dari Egyptian Blue, pigmen sitentis tertua diketahui dalam sejarah manusia.
Adalah tim peneliti berasal dari Washington State University (WSU) dan Carnegie Museum of Natural History yang sukses memecahkan misteri pigmen kuno Mesir tersebut.
Advertisement
Berasal dari era Dinasti Keempat Mesir (sekitar 2613-2494 SM), pigmen kuno ini mencakup spektrum luas dari biru tua hingga abu-abu dan hijau pucat.
Meski populer digunakan oleh bangsa Romawi sebagai alternatif murah dari batu mulia seperti lapis lazuli dan turquoise, resep lengkap pembuatannya lenyap sejak zaman Renaissance.
Menurut John McCloy, insinyur material dari WSU sekaligus penulis utama studi dimuat di jurnal npj Heritage Science, proyek ini awalnya hanya sebatas untuk membuat bahan pajangan untuk museum.
"Ini awalnya hanya proyek iseng karena diminta membuat bahan untuk pameran. Tapi ternyata minta terhadap pigmen ini sangat tinggi," ujarnya dikutip dari Popular Science, Jumat (6/6/2025).
Proses Rekonstruksi Egyptian Blue
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2718023/original/069466100_1548939731-20190131-Mumi-Firaun-Tutankhamun-AFP3.jpg)
Dalam prosesnya, tim peneliti bekerja sama dengan ahli maneral dan ahli mesir kuno untuk menyusun kemungkinan bahan dasar seperti kalsium, tembaga, silika (SiO2), dan natrium karbonat.
Campuran ini lalu dipanaskan antara 1 hingga 11 jam pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius, dan hasilnya dianalisa dengan berbagai teknik ilmiah seperti sinar-X dan tomografi nano.
Setelah itu, dibandingkan dengan artefak Mesir asli, termasuk sepotong cartonnage--material mirip papier-mache yang digunakan dalam topeng pemakaman.
Advertisement
Warna Bergantung pada Waktu Pendinginan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4382557/original/099887200_1680584223-20230404-Pameran-Makam-Firaun-Prancis-AP-2.jpg)
Salah satu temuan menarik dalam proses ini, ternyata waktu pendinginan berpengaruh besar terhadap warna akhir. Pendinginan lambat menghasilkan warna biru dalam, sementara proses cepat justru memunculkan warna abu-abu dan hijau.
Untuk menghasilkan warna biru pekat, hanya dibutuhkan sekitar 50 persen bahan yang mengandung elemen warna tersebut. Kunci dari warna ini terletak pada cuprorivaite, mineral alami yang jadi sumber utama warna biru.
Meskipun campuran pigmen terlihat tidak seragam secara mikroskopis, ketika dipanaskan, warna tetap muncul konsisten karena cuprorivaite terbungkus partikel silikat bening.
“Komposisi lainnya tampak tidak terlalu berpengaruh, yang mengejutkan kami. Setiap partikel mengandung banyak elemen berbeda, tapi warnanya tetap seragam,” jelas McCloy.
Lebih dari Sekadar Rekonstruksi Warna
Temuan ini bukan sekadar upaya menciptakan ulang warna masa lalu. Tim berharap 12 varian Egyptian Blue yang direkonstruksi ini dapat digunakan dalam konservasi artefak kuno, memberikan hasil restorasi yang lebih akurat dan indah seperti aslinya.
Lebih dari itu, teknologi di balik pigmen ini membuka peluang besar dalam bidang forensik, keamanan, hingga pengembangan material futuristik. Pigmen ini juga memiliki sifat biologis, magnetik, dan optik yang unik.
Salah satunya, mampu memancarkan cahaya inframerah-dekat—tak terlihat oleh mata manusia, tapi sangat berharga untuk teknologi anti-pemalsuan, pelacakan sidik jari, hingga aplikasi di superkonduktor suhu tinggi.
Jadi, siapa sangka dari proyek "iseng" museum, lahir penemuan yang bisa menyatukan sejarah kuno dengan teknologi masa depan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817611/original/090036900_1714471627-Infografis_AI.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5244709/original/048707000_1749210065-Misteri_Pigmen_Tertua_di_Dunia_Terpecahkan__Ilmuan_Berhasil_Kembalikan_Warna_Rahasia_Firaun__.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8578726/original/087210500_1782537285-063_2283517405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937793/original/094395600_1725589798-AP24249749330750.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261539/original/051141200_1781743137-IMG-20260618-WA0008.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264054/original/059677500_1782070488-Spain_s_Mikel_Oyarzabal_celebrates_with_teammate_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)