Sukses

Menkominfo Ungkap AS Hanya Batasi 5G di Sekitar Kawasan Bandara Utama

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate mengatakan, penggelaran jaringan 5G di Amerika Serikat (AS) masih berjalan.

Hal ini diungkap Johnny pada Rabu (19/1/2022), terkait adanya kabar tentang dampak 5G terhadap keselamatan penerbangan yang dikhawatirkan beberapa pihak di AS.

Berdasarkan President Biden on 5G Agreement yang dirilis situs whitehouse.gov 18 Januari 2022, disebutkan penggelaran jaringan 5G di AS untuk sementara waktu ditunda pada sejumlah kawasan terbatas.

Meski begitu, Johnny mengatakan kawasan-kawasan tersebut khususnya di sekitar bandara utama atau key airports.

"Pemerintah Amerika Serikat tetap mengizinkan penggelaran jaringan 5G sesuai jadwal yang telah ditentukan pada wilayah berada di luar bandara-bandara tersebut," kata Johnny di Jakarta.

"Hal itu dapat disimpulkan berarti 90 persen dari rencana penggelaran jaringan 5G tidak terhambat dengan pembatasan tersebut," ujarnya.

Menkominfo juga menambahkan, para pemangku kebijakan di AS juga sedang berupaya untuk mencari solusi teknis yang bersifat praktis, yang berjalan paralel dengan pembatasan tersebut. 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

5G di Indonesia Aman

Untuk Indonesia sendiri, Menkominfo menegaskan bahwa jaringan telekomunikasi 5G aman dan tidak mengganggu spektrum frekuensi keselamatan penerbangan.

Hal ini karena tersedianya guard band selebar 600 MHz yang membentang dari mulai frekuensi 3,6 GHz sampai dengan 4,2 GHz, guna membentengi Radio Altimeter dari sinyal jaringan 5G.

"Guard band sebesar itu hampir 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan yang disediakan di Amerika Serikat," kata Johnny.

Dia menjelaskan, frekuensi 5G di AS menggunakan pita frekuensi 3,7 sampai 3,98 GHz. Sedangkan di Indonesia, frekuensi 5G berada di rentang 3,4 sampai 3,6 GHz.

Indonesia juga memperhatikan bahwa alokasi frekuensi untuk Radio Altimeter yang telah ditetapkan oleh Radio Regulations International Telecommunication Union adalah pada rentang 4,2 sampai 4,4 GHz.

Menurut Johnny, di AS, spektrum frekuensi radio untuk 5G berada pada pita frekuensi radio altimeter yang digunakan untuk kepentingan penerbangan.

"Case yang terjadi di Amerika Serikat konteksnya adalah untuk jaringan 5G yang bekerja pada pita frekuensi 3,7 GHz atau 3.700 Mhz tepatnya pada rentang 3,7 sampai 3,98 GHz," kata Menkominfo.

Sedangkan, sistem yang dikhawatirkan terganggu adalah sistem Radio Altimeter yang bekerja pada pita frekuensi 4,2 sampai 4,4 GHz.

3 dari 4 halaman

Jangan Sampai 5G Ditunda

Menurut Johnny, sistem radio altimeter merupakan sistem keselamatan utama dan penting dalam pengoperasian pesawat udara. Hal itu untuk menentukan ketinggian posisi pesawat udara terbang di atas tanah.

Sementara untuk Indonesia, Johnny menyebut tidak ada rencana untuk menggunakan pita frekuensi 3,7 GHz dalam implementasi 5G.

"Pemerintah dalam hal ini Kominfo, tetap akan menggunakan pita frekuensi 3,7 sampai 4,2 GHz guna keperluan komunikasi satelit, bukan untuk 5G," ujar Johnny.

Lebih lanjut, Johnny menegaskan belum ada catatan dari Kementerian Perhubungan soal dampak 5G terhadap layanan penerbangan.

"Hanya karena diberitakan di media nasional, kita tentu tidak ingin masyarakat tidak mendapat informasi yang menyeluruh dan tepat," kata Menkominfo.

Maka dari itu, Kementerian Kominfo pun menilai butuh memberikan penjelasan kepada masyarakat agar mengetahui penjelasan yang lengkap dari situasi tersebut.

"Jangan sampai masyarakat ragu-ragu naik pesawat terbang atau nanti menuntut agar ditunda 5G. Nanti berdampak pada industri telekomunikasi nasional kita."

(Dio/Ysl)

4 dari 4 halaman

Infografis Era Teknologi 5G di Indonesia