Sukses

Pesawat Bertenaga Listrik untuk Redam Kematian Dini

Liputan6.com, Jakarta - Pada ketinggian jelajah antara 9.144 meter hingga 11.582 meter, pesawat terbang memancarkan aliran nitrogen oksida ke atmosfer.

Senyawa kimia yang terbentuk lewat proses reaksi selama pembakaran pada suhu tinggi itu merupakan salah satu sumber utama polusi udara.

 

Senyawa kimia itu juga dikaitkan dengan asma, penyakit pernapasan, dan gangguan kardiovaskular, termasuk 16.000 kematian dini setiap tahunnya akibat penerbangan global.

 

Terkini, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) menawarkan rancangan sistem penggerak pesawat yang dapat mereduksi 95 persen emisi nitrogen oksida selama penerbangan. Inovasinya adalah pesawat bertenaga listrik. 

Diperhitungkan, itu dapat menekan angka kematian dini yang dikaitkan dengan nitrogen oksida di atmosfer hingga 92 persen.

 

Siapa sangka, sistem kendali emisi pascapembakaran dari kendaraan transportasi darat seperti truk diesel, menjadi inspirasi untuk rancangan ini. Para peneliti mengusulkan desain serupa untuk pesawat terbang, tetapi dengan sentuhan elektrik.

 

Konsep yang diusulkan oleh Steven Barrett, profesor di bidang aeronautika dan astronautika di MIT tersebut memisahkan baling-baling atau kipas penghasil daya dorong dari turbin gas pembangkit listrik.

Baling-baling atau kipas angin akan langsung digerakkan oleh generator listrik, yang pada gilirannya akan didukung turbin gas. Pipa pembuangan dari turbin gas akan dimasukkan ke dalam sistem kontrol emisi bergaya akordeon di ruang kargo pesawat.

Dia memperhitungkan sebagian besar sistem ini akan muat di dalam perut pesawat, di mana terdapat banyak ruang di banyak pesawat komersial.