Sukses

Google Cabut Fitur Penghemat Data dari Chrome

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian besar dari kita hidup di negara-negara di mana internet cepat dan dapat diandalkan untuk menunjang aktivitas.

Internet cepat, artinya situs web harus bekerja dengan optimal, seperti video dapat di-streaming tanpa gangguan, dan file dapat diunduh dengan cepat.

Namun, ternyata ada juga beberapa yang tidak bisa menikmati internet cepat. Ini menandakan kalau pengoptimalan situs web sangatlah penting.

Nah, di sinilah fitur Google Chrome Data Saver atau penghemat data berguna, di mana itu bisa membantu meningkatkan waktu pemuatan halaman.

Dilansir Ubergizmo pada Jumat (26/04/2019), sayangnya Google telah memutuskan untuk mematikan fitur ini.

Google telah mengumumkan bahwa fitur tersebut akan dihentikan dalam waktu dekat. Sebagai gantinya, fitur penghemat data akan diluncurkan kembali di Chrome untuk Android yang sekarang dikenal sebagai mode Lite.

“Mode Lite juga membantu meningkatkan pemuatan halaman. Jika Chrome memperkirakan suatu halaman akan membutuhkan waktu lebih dari 5 detik untuk memuat teks atau gambar pertama ditampilkan di layar, laman Lite justru sangat dioptimalkan untuk memuatnya jauh lebih cepat," terang Google.

Namun, perusahaan asal Negeri Paman Sam ini tidak menyebutkan mengapa mereka mematikan fitur tersebut pada perangkat desktop. Mungkin saja, mereka memilih untuk 'menginvestasikan' fitur ini ke versi mobile.

Kabar ini nyatanya tidak terlalu mengejutkan, mengingat ada beberapa pengembang yang  memilih untuk meluncurkan versi "Lite" dari aplikasinya untuk menaikan minat pasar.

Sekadar informasi, Google adalah satu-satunya yang meluncurkan YouTube Go yang dirancang untuk merangkul pasar kelas bawah.

2 dari 3 halaman

Ada Bug, Google Ingin Pengguna Segera Update Chrome

Google baru saja mengumumkan peringatan kepada pengguna peramban miliknya, yakni Chrome untuk segera melakukan update atau pembaruan. Kenapa?

Perusahaan teknologi itu terpaksa melakukan pengumuman karena peretas mampu mengungkap bug di dalam Chrome sebelum Google menemukannya, dikutip dari laman The Sun, Jumat (8/3/2019).

Sekadar informasi, Google secara teratur memperbaiki bug yang dapat mengeksploitasi software PC, dan mencuri informasi pengguna. Lalu bagaimana dengan bug bernama CVE-2019-5786 itu?

Namun, sangat sedikit pengguna Chrome mengetahui informasi dan cara kerja bug yang mengancam itu. CVE-2019-5786 dilaporkan pertama kali oleh salah seorang anggota Kelompok Analisis Ancaman Siber Google pada 27 Februari 2019.

Kala itu, rincian informasi tentang bug tersebut masih sedikit, karena Google membatasi akses detail bug sampai mayoritas pengguna menginstal pembaruan.

Dilansir ZDNet, hacker dapat mengeksploitasi kerentanan di Chrome dengan memungkinkan aplikasi web membaca konten file yang tersimpan di komputer pengguna.

Tak hanya itu, bug tersebut juga memungkinkan pelaku kejahatan siber untuk menjalankan atau mengeksekusi kode berbahaya tanpa sepengetahuan pengguna Google Chrome.

 

3 dari 3 halaman

Update Secara Manual Segera

Ilustrasi Hacker (iStockPhoto)

Informasi, pembaruan Chrome bersifat otomatis, yang artinya kamu tidak pelu melakukan banyak hal selain membuka dan menutup jendela browser.

Akan tetapi, terkadang butuh beberapa hari hingga satu minggu bagi semua orang memperbarui peramban secara otomatis ke versi terbaru.

Dalam hal ini, kamu harus melakukan pembaruan Chrome secara manual untuk memastikan kamu memiliki peramban versi terbaru.

(Shintya Alfian/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Setelah Australia, Drone Google Wing Kini Mengudara di AS
Artikel Selanjutnya
Tertarik Kerja di Google? Ini Tahapan Wawancara yang Harus Dilalui